Pasar yang Manusiawi

Bos-hazairin-copy
Hazairin Sitepu

POJOKSATU – Pasar-pasar tradisional di Indonesia, termasuk di Bogor, pada umumnya belumlah memberikan rasa aman dan rasa nyaman bagi konsumen yang datang berbelanja ke situ. Pasar tradisional masih identik dengan kesemrawutan atau ketidakteraturan, banyak pencopet, kotor, becek, bau tidak sedap, pungutan liar, dll yang konotatif.

Itu sebabnya ketik ibu hendak ke pasar ia berusaha tidak membawa anak kecilnya, atau ketika menyuruh pembantu ke pasar selalu berpesan “Hati-hati ya di pasar anu banyak copet.”

Itu sebabnya lagi, masyarakat menengah atas lebih memilih berbelanja ke supermarket/pasar modern meskipun harga barangnya jauh lebih mahal. Karena di sana sangat teratur, bersih, aman dan sangat nyaman. Juga tidak ada pungutan liar.

Ibu-ibu kalau ke supermarket membawa serta anak-anaknya, termasuk anak bayinya. Karena di sana suasananya menyenangkan untuk siapa saja.


Hari-hari ini masyarakat Kota Bogor sedang menanti siapa gerangan yang akan dipilih menjadi direksi Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ). Perusahaan pengelola pasar-pasar tradisional yang ada di Kota Bogor.

Pemerintah Kota Bogor memang telah membentuk satu panitia untuk menyeleksi direksi PD PPJ itu. Mereka adalah para profesional dan wakil pemerintah kota. Tim Seleksi (Timsel) ini diberikan kewenangan untuk mememilih orang-orang terbaik yang memiliki kompetensi, kemampuan dan kemauan untuk membuat pasar tradisional menjadi tempat belanja yang aman dan nyaman. Kemudian. walikota mengangkat mereka menjadi direksi.

Direksi PD PPJ nanti mestilah orang-orang yang tahu bahwa keamanan dan kenyamanan di pasar adalah hak masyarakat yang wajib diberikan. Sesungguhnya tidak hanya tahu, tetapi mau bekerja keras, mau bekerja cerdas untuk memberikan hak-hak itu.

Artinya, perlu melakukan perubahan fundamental baik management, program atau rencana kerja, membangun spirit, moralitas dan mentalitas baru di pasar. Sehingga pasar nantinya tidak saja menjadi tempat belanja yang manusiawi dan berbudaya tetapi juga adalah cermin dari sikap dan perilaku positif masyarakat Indonesia.

Manemukan orang dengan kualifikasi itu memang tidaklah gampang. Karena itu Timsel harus melakukan seleksi lebih terbuka, mulai dari persyaratan, pemasukan lamaran, seleksi berkas lamaran, kejujuran terhadap informasi pelamar, dll.

Pansel bila perlu mengajak orang-orang terbaik di Kota Bogor ini untuk ikut menjadi kandidat. Bila ada persyaratan mereka belum lengkap (karena hal teknis) sebaiknya minta dilengkapi, bukan dianggap tidak lulus berkas. Kecuali bagi calon yang memalsukan persyaratan, sedari awal lamarannya memang harus ditolak.

Itu sebabnya Timsel mungkin saja mengajak orang-orang independen untuk ikut meneliti secara bersama-sama berkas-berkas lamaran yang masuk. Sehingga usaha untuk mencari orang terbaik relatif bisa lebih objektif.

Bila perlu pula waktu seleksi ditambah, sehingga bisa memberikan kesempatan kepada pelamar melengkapi persyaratan yang masih kurang, juga Timsel tidak tergesa-gesa memilih. Ini jika ingin mendapatkan calon direksi yang memiliki kualitas, direksi yang bisa dan mau bekerja untuk menjadikan pasar lebih manusiawi dan berbudaya. Pasar yang memiliki daya tarik untuk siapa saja datang ke situ. (Hazairin Sitepu)