Sugianto Sabran : BW Bukan Orang Suci

Bambang Widjojanto

POJOKSATU – Nama mantan calon bupati di Pilkada Kotawaringin Barat (Kobar), Sugianto Sabran tiba-tiba mencuat lagi. Pria yang kini menjadi anggota DPR dari PDI Perjuangan itu menjadi pelapor kasus dugaan rekayasa saksi sidang sengketa Pilkada Kobar yang berujung pada penangkapan atas Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto (BW) oleh Bareskrim Polri.

Sugianto yang didiskualifikasi oleh MK akibat kesaksian palsu pada sidang sengketa Pilkada Kobar, tiba-tiba nongol di Bareskrim, Jumat (23/1) untuk memperbarui laporannya. Laporan pertamanya adalah pada 19 Januari lalu.

Mantan suami Ussy Silistiawati itu muncul di Bareskrim saat BW tengah diperiksa. Ketika kuasa hukum BW memberikan keterangan pers di Bareskrim, Sugianto sempat menyela dan berteriak.

“Ibu tidak usah bela-bela dia (BW). Saya ini korban BW,” kata Sugianto di Bareskrim Mabes Polri, Jumat (23/1).


Perhatian wartawan sempat tertuju ke Sugianto. Namun, Sugianto digiring menjauh dari kerumunan wartawan menuju pelataran Masjid Al Ikhlas di Mabes Polri.

Adakah dendam di balik pelaporan itu? Ataukah Sugianto hanya jadi pion dari sebuah skenario besar?

Di pelataran masjid pula akhirnya Sugianto meladeni pertanyaan wartawan terkait laporannya yang membuat Polri menjerat BW. Berikut petikannya;

Apa motif Anda melaporkan Bambang Widjojanto pada 19 Januari 2015?
Motif saya ngga dendam, ngga dendam pribadi. Saya cuma mencari keadilan dan kebenaran sejak tahun 2010 terkait kasus Pemilukada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah sejak didiskualifikasi di MK.

Di MK ini menurut saya mereka (BW Cs) merekayasa. Para saksi diminta menghujat seseorang di MK. Itu penilaian saya. Saya kan otodidak, saya cuma tamatan SMA negeri di Pangkalan Bun. Saya tidak mengerti hukum, tapi secara nurani, secara pikiran tahu mana yang benar dan salah. Menurut saya, Insyaallah kebenaran akan terkuak.

Keadilan apa yang Anda cari sebenarnya?
Coba bayangkan orang yang kalah dilantik dan yang menang didiskualifikasi. Ya kita secara otomatis mencari keadilan. Sejak 2010 lalu saya laporkan, saya mencari keadilan. Tapi rekan-rekan media pun tidak ada yang mendukung. Bahkan BW ketika itu mencalonkan diri sebagai salah satu pimpinan KPK. Bahwa BW ini seolah-olah orang yang bersih di dunia, orang sucilah dan bahwa apa yang dikatakan selalu benar. Tapi, Allah berkehendak lain bahwa orang zalim pasti akan ada yang menyadarkan.

Apakah sama laporan Anda pada 9 Januari 2015 dengan laporkan pada 2010?
Sama persis laporannya.

Kenapa baru sekarang lagi melaporkan? Apakah karena terkait KPK menangani kasus Komjen Budi Gunawan?
Demi Allah, demi Rasullullah, demi orang tua saya, saya cuma mencari kebenaran. Orang yang lupa kebenaran itu wajib diingatkan.

Apakah Anda melapor ini perintah dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan?
Insyaallah tidak ada. Demi Allah, ini kehendak saya mencari kebenaran. Tidak ada (perintah PDIP). Ini murni penegakan hukum. Andai kata saya salah dalam hal ini, tangkaplah saya.

Sejak Pak Akil (Akil Mochtar, mantan Hakim MK) mengatakan bahwa beliau satu mobil dengan BW saat (proses persidangan perkara) Pemilukada Kotawaringin Barat, maka saya langsung melaporkan. Saya curiga.

Partai Anda sudah tahu?
Belum tahu.

Anda menyerang KPK?
Saya bukan menyerang KPK. Demi Allah tidak. Saya memandang Pak BW sebagai manusia biasa. Saran saya, jangan dikatakan Polri dalam menyidik kasus BW terkait kasus itu (Budi Gunawan, red). KPK itu harus kita jaga bersama, tapi kan oknum yang salah itu harus kita sadarkan juga.(jpnn/boy/ps)