Minimarket Dilarang Jual Miras

sevel3

POJOKATU – Pemerintah mempersempit ruang gerak penjualan minuman keras (miras) beralkohol kurang dari 5 persen. Jika sebelumnya masih bisa dibeli di minimarket, setidaknya tiga bulan lagi miras golongan A itu hanya bisa dibeli di supermarket atau hipermarket.

’’Pak Menteri (menteri perdagangan, Red) kesal karena peraturan-peraturan sebelumnya tidak dihiraukan. Banyak yang dengan mudah membeli minuman keras di minimarket. Padahal, populasi minimarket itu banyak sekali dekat dengan sekolah dan tempat ibadah. Daripada ribet, mending sekalian dilarang,’’ ujar Dirjen Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan Widodo, Kamis (22/1).

Dia menyebutkan, ada tiga golongan minuman keras. Yaitu, golongan A (berkadar alkohol 1–5 persen), golongan B (5–20 persen), serta golongan C (20–45 persen). ’’Golongan A seperti bir-bir. Minuman kaleng selama ini memang boleh dijual di minimarket,’’ terangnya.


Namun, dengan adanya aturan baru yang dikeluarkan Mendag Rachmat Gobel, minimarket tidak lagi bisa menjual miras golongan A. Kemendag akan menyisir minimarket-minimarket guna melihat kepatuhan mereka. ’’Paling lambat tiga bulan dari sekarang mereka sudah harus menarik miras dari etalase,’’ tegasnya.

Penjualan miras golongan A di minimarket memang diperbolehkan sesuai dengan Permendag 70/M-DAG/PER/12/2013. Lalu, aturan diperketat dengan Permendag 20/M-DAG/PER/4/2014 yang melarang penjualan miras di minimarket yang dekat dengan permukiman, tempat ibadah, terminal, stasiun, rumah sakit, gelanggang remaja, serta sekolah. ’’Sekarang hanya boleh dijual di supermarket dana hipermarket,’’ ujarnya.

Widodo menambahkan, Permendag No 06/M-DAG/PER/1/2015 ditandatangani Menteri Perdagangan Rachmat Gobel pada 16 Januari 2015. Namun, permendag tersebut masih harus disahkan menteri hukum dan hak asasi manusia (Menkum HAM). ’’Semoga akhir bulan ini selesai sehingga April berlaku efektif,’’ jelasnya.

Menanggapi peraturan baru pemerintah itu, Corporate Affair Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk Solihin tidak mau berkomentar banyak. Dia sudah bisa memprediksi bahwa pemerintah bakal mengeluarkan peraturan tentang larangan penjualan miras di minimarket. ’’Sebetulnya, beberapa daerah sudah melarang. Misalnya, Bogor dan Tangerang,’’ ungkapnya.

Di daerah lain, kata dia, gerainya masih menjual miras, tapi dalam jumlah yang sangat terbatas. Kadar alkoholnya tidak lebih dari 5 persen. Pembelinya pun harus dipastikan sudah berusia lebih dari 21 tahun. ’’Kalaupun sekarang dilarang sama sekali (menjual), itu tidak akan berpengaruh terhadap omzet penjualan. Kami pasti taat pada kebijakan pemerintah,’’ tegasnya.

Namun, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta menyayangkan keluarnya peraturan tersebut. Sebab, wisatawan asing bakal mengeluh. ’’Untuk di daerah-daerah wisata seperti Bali, minimarket bebas menjual minuman beralkohol. Jadi, ini harus dibedakan kebutuhannya. Dalam hal ini, minimarket hanya ingin melayani kebutuhan bule-bule itu,’’ katanya.

Menurut dia, sebagai jalan tengah, pemerintah sebaiknya mengembalikan peraturan perdagangan minuman beralkohol ke masing-masing daerah. Dengan begitu, masing-masing pemerintah daerah bisa mempertimbangkan sesuai dengan kondisi. ’’Kalau Bali juga harus taat, pariwisata nanti bisa terpengaruh,’’ ungkapnya.

Ketua Umum Gerakan Nasional Anti-Miras (Genam) Fahira Idris mengapresiasi langkah Mendag Rachmat Gobel yang menerbitkan peraturan larangan penjualan minuman keras golongan A di minimarket. ’’Kami salut kepada menteri perdagangan yang berani tegas,’’ ujarnya.

Dia menuturkan, pengawasan penjualan miras di minimarket sangat lemah sehingga banyak remaja yang bisa membeli. ’’Banyak remaja yang awalnya coba-coba dulu minum yang kadar alkoholnya di bawah 5 persen. Lama-kelamaan terbiasa sehingga maunya yang alkohol lebih tinggi. Ini awal petaka bagi anak muda,’’ ungkapnya.

Dalam waktu dekat, dia menginstruksi aktivis Genam yang tersebar di seluruh Indonesia untuk membantu menyosialisasikan peraturan baru tersebut kepada pemilik minimarket dan masyarakat luas. ’’Meski masih proses di Kemenkum HAM, alangkah baiknya minimarket sejak sekarang menyingkirkan miras,’’ katanya. (wir/c5/end)