Grasi Ditolak, Eksekusi Mati Menunggu 8 Pengedar

Ilustrasi

Ilustrasi Hukuman Mati

Terpidana mati kasus narkotika yang ditolak grasinya oleh Presiden Joko Widodo semakin bertambah. Kejaksaan Agung mencatat sudah ada 8 terpidana mati yang gagal mendapatkan pengampunan melalui permohonan grasi tersebut.

“Tentu ini akan menjadi bahan evaluasi. Artinya, kita sudah mengidentifikasi, sampai hari ini ada 8 terpidana mati yang sudah ditolak grasinya,” ungkap Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Tony T Spontana di Jakarta, Jumat (23/1).

Ia menjelaskan, kedelapan terpidana mati yang ditolak grasinya itu terdiri dari tujuh orang warga negara asing (WNA) dan seorang warga negara Indonesia (WNI).


Ketujuh WNA di antaranya, Andrew Chan (WN Australia), Mary Jane Fiesta Veloso (WN Filipina), Myuran Sukumaran alias Mark (WN Australia), Serge Areski Atlaoui (WN Prancis), Martin Anderson alias Belo (WN Ghana), Raheem Agbaje Salami ‎(WN Cordova) dan Rodrigo Gularte (WN Brazil). Sedangkan yang merupakan WNI yakni, Zainal Abidin.

Meski demikian, Tony mengaku, pihaknya belum menentukan kapan waktu dan tempat pelaksanaan eksekusi bagi kedelapan terpidana itu.

“Karena kita masih melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan eksekusi tahap pertama yang kemungkinan akan selesai pekan depan,” ujarnya.

Seperti diketahui, Andrew Chan merupakan terpidana yang terakhir ditolak grasinya melalui Keputusan Presiden (Keppres) No 9/G Tahun 2015 tanggal 17 Januari 2015.

Ia merupakan anggota ‘Bali Nine’ yang terbukti menyelundupkan narkotika jenis heroin seberat 8,2 kilogram. Selain Andrew, Myuran Sukumaran juga dihukum mati dan grasinya lebih dulu ditolak oleh Presiden. Ia juga tercatat sebagai anggota Bali Nine.(ydh)