Sediakan 50 Ribu Lowongan Magang Bagi Mahasiswa

Wapre Jusuf Kalla
Jusuf Kalla
Jusuf Kalla

POJOKSATU – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, cara paling efektif untuk menjadikan lulusan perguruan tinggi siap kerja adalah dengan mengenalkan dunia usaha sejak mahasiswa saat masih kuliah melalui program magang.

“Setiap tahun, setidaknya kami bisa menyerap 50 ribu mahasiswa magang,” ujarnya setelah penandatanganan nota kesepahaman antara Apindo dengan Forum Rektor Indonesia dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi di Istana Wakil Presiden kemarin (21/1).

Menurut Hariyadi, program magang besar-besaran tersebut bisa menjadi win-win solution bagi dunia usaha maupun dunia kampus. Dunia usaha akan diuntungkan dengan tersedianya tenaga kerja siap pakai, adapun kampus diuntungkan karena lulusannya memiliki akses langsung ke dunia kerja.

Karena itu, kampus diminta untuk segera mensosialisasikan program ini. “Target kami, enam bulan ke depan program ini sudah bisa dimulai,” katanya.


Sektor apa saja yang dibutuhkan? Hariyadi menyebut, semua sektor industri siap membuka lowongan magang. Apalagi, jumlah perusahaan anggota Apindo mencapai lebih dari 14 ribu perusahaan di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, perkebunan, hingga jasa.

“Misalnya sektor perhotelan yang saya geluti, butuh pasokan ribuan tenaga terampil setiap tahun,” ucap pemilik grup Hotel Sahid tersebut.

Ketua Forum Rektor Indonesia Ravik Kasidi menambahkan, dunia pendidikan dan dunia usaha memang harus bersinergi. Selain program magang, sinergi juga akan dilakukan mulai dari program penelitian dan pengembangan (research and development).

“Ini sangat penting untuk menciptakan nilai tambah bagi sektor industri kita,” ujar rektor Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo itu.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, sinergi antara perusahaan dengan kampus sebagai penghasil calon tenaga kerja ibarat biro jodoh yang membuka pendaftaran untuk perjodohan.

“Kalau perusahaan cocok (dengan kinerja mahasiswa magang), bisa langsung dijadikan karyawan,” katanya berseloroh.

Sementara itu, sinergi dengan Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi diperlukan untuk menemukan link antara riset implementatif dengan pemanfaatan riset oleh dunia usaha.

Dia menyebut, di Jepang dan Amerika Serikat (AS), paten-paten hebat ditemukan oleh peneliti-pemneliti kampus yang kemudian dimanfaatkan dunia industri.

“Ibaratnya, kepalanya dilatih di kampus dan tangannya dilatih di dunia usaha,” ujarnya. (owi/kim)