Diragukan Tjahjo Hingga Yusril, Sejauh Mana Sensasi Hasto?

Hasto Kristianto
Hasto Kristianto
Hasto Kristianto

POJOKSATU – Hasto Kristiyanto menggebrak panggung politik dan hukum nasional hari ini, Kamis (22/11). Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan itu berani terang-terangan membuka konfrontasi dengan Abraham Samad, Si Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sebelumnya, Abraham atau Samad (dua panggilan sah Ketua KPK ini) bersama institusinya sedang menjadi perhatian publik. Beragam kasus korupsi yang sedang dan sudah digarap KPK saat ini, seperti langsung tertutup usai KPK menetapkan seorang polisi berpangkat Komisaris Jenderal bernama Budi Gunawan, sebagai tersangka kasus tindak pidana korupsi.

Padahal, Komjen BG (demikian KPK menyebut tersangkanya yang merupakan mantan ajudan Megawati Soekarnoputri itu) adalah satu-satunya calon Kapolri yang diusulkan Presiden Joko Widodo ke DPR. “Komjen BG tersangka kasus tindak pidana korupsi saat menduduki kepala biro pembinan karier,” kata Samad, Selasa (13/1).

Hiruk pikuk kian menjadi-jadi usai KPK bikin heboh, hingga puncaknya Presiden Jokowi menunda pelantikan Komjen BG sebagai Kapolri (bukan membatalkan, tapi menunda). KPK pun dikecam meski tak sedikit pula mendapat dukungan. Abraham Samad juga digoyang dengan munculnya foto mesra (editan) Ketua KPK dengan Putri Indonesia 2014, Elvira Devinamira, pada pekan lalu.


Nah, Hasto, menambah serangan ke markas KPK. Sosok kelahiran Yogyakarta 7 Juli 1966 ini menuding Abraham Samad sering melakukan lobi atau mengomunikasikan keinginan kepada PDI Perjuangan dan Nasdem untuk menjadi calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo.

Hasto meminta Abraham untuk berani mengakui pertemuan itu adalah benar. “Abraham Samad selalu menggunakan masker warna hijau dan topi hitam setiap bertemu dengan kami,” ungkap Hasto, sambil mengenakan mas‎ker dan topi warna hitam dalam konferensi persnya.

Namun semua itu dibantah KPK. “‎Dari keterangan yang disampaikan Pak Abraham mengenai sejumlah pertemuan dengan beberapa pihak yang diindikasikan berkaitan dengan pencalonan Pak Abraham sebagai wapres waktu itu, penjelasannya bahwa semua yang disampaikan adalah fitnah belaka. Pak Abraham membantah dengan keras apa yang dikatakan Hasto,” kata Deputi Pencegahan KPK, Johan Budi, mewakili pimpinan KPK.

Selain bantahan KPK sendiri, sebagian yang diungkap Hasto juga diragukan Andi Widjajanto, sosok yang merupakan anggota Tim 11, tim yang mengevaluasi nama-nama calon wakil presiden di kubu Joko Widodo.

Andi Widjajanto membantah bahwa Ketua KPK Abraham Samad telah meminta dirinya dipertimbangkan sebagai calon wakil presiden pendamping Joko Widodo (Jokowi). Menurut Andi, masuknya Abraham dalam jajaran kandidat merupakan usulan PDI Perjuangan. Abraham merupakan satu dari tujuh nama yang diserahkan oleh PDI Perjuangan kepada Tim 11 untuk dievaluasi.

“Ketika Tim 11 dibentuk Bu Mega (Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri) ada tujuh nama yang diusulkan, salah satunya Abraham Samad,” kata Andi di Istana Bogor.

Di tempat yang sama dengan Andi, Tjahjo Kumolo juga cukup heran dengan apa yang diungkap Hasto. Tjahjo yang mantan Sekjen PDIP alias pendahulu posisi Hasto mengaku tidak tahu tentang pertemuan Abraham Samad dengan petinggi partainya jelang Pilpres, seperti yang diungkap Hasto.

Tjahjo mengatakan secara pribadi tidak pernah bertemu secara empat mata dengan Abraham. “Soal itu tanyakan ke Pak Hasto, saya tidak tahu. Saya pribadi tidak pernah bertemu empat mata dengan dia (Abraham),” kata Tjahjo.

Bergerak sendirikah Hasto dalam perseteruan ini? Dalam jumpa pers, Hasto yang sempat masuk bursa menteri kemudian akhirnya hanya sampai Tim Transisi itu, sempat menyebut mantan Kepala BIN A.M Hendropriyono mau bersaksi dalam Komite Etik KPK, jika pernyataannya mau disikapi serius.

Selain Hendropriyono, Hasto juga menyebut dua sampai tiga menteri di Kabinet Kerja siap memberikan keterangan sebagai saksi. “Beberapa saksi yang kami miliki, yang di antaranya saat ini menduduki posisi sebagai menteri Kabinet Kerja Jokowi-Jk, siap memberikan keterangan sebagai saksi,” ujar Hasto.

Benar kata Yusril Ihza Mahendra. Pakar tata negara itu menulis cuitan bahwa Hasto harus lebih berani menunjukan alat-alat bukti lainnya. “Hasto harus tunjukkan alat2 bukti yang lain dong selain para saksi pertemuan dg Pak AS. Sebaliknya kalau Hasto memfithah, ya jangan didiamkan dong. Laporkan Hasto ke polisi. Wah tambah ngeri2 sedaaaap…” cuit Yusril. (adk/jpnn/ps)