Cekcok, Sopir Bus Tewas di Tangan Kondektur

DIDUGA DIANIAYA: Dua petugas Kamar Mayat RSUD Cianjur memeriksa jasad Hendra (37) sopir bus PO Marita yang tewas diduga usai cekcok dengan teman satu perusahaan.
DIDUGA DIANIAYA: Dua petugas Kamar Mayat RSUD Cianjur memeriksa jasad Hendra (37) sopir bus PO Marita yang tewas  diduga usai cekcok dengan teman satu perusahaan.
DIDUGA DIANIAYA: Dua petugas Kamar Mayat RSUD Cianjur memeriksa jasad Hendra (37) sopir bus PO Marita yang tewas diduga usai cekcok dengan teman satu perusahaan.

POJOKSATU-Hendra (37), sopir bus PO Marita diketahui sudah tidak bernyawa usai cekcok dengan seorang kondektur yang juga bekerja di perusahaan yang sama, Selasa dini hari kemarin sekitar pukul 02.00 WIB.

Warga Kampung Dander, Desa Sukamaju, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi ini, tewas di kontrakan yang menjadi tempat singgah bagi karyawan bus PO Marita di Kampung Sarongge RT 01/03, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku, Cianjur.

Erna Susilawati (38) tetangga kontrakan korban mengatakan, sekitar pukul 16.30 WIB, MD (30) seorang kondektur datang ke kontrakan korban, yang diketahui sedang tidur-tiduran di ruang tengah.

Entah bagaimana awalnya, korban langsung menghardik MD dan menyuruhnya untuk keluar serta tidak diperbolehkan datang lagi ke kontrakan itu. Mendapat kata-kata usiran, MD pun merasa tidak terima dan balik membalas.


“Hendra bilang kenapa kamu ke sini? Aku gak suka lihat kamu di sini. Kamu pergi sana. Jangan kembali ke sini lagi,” ungkap Erna menirukan kata-kata Hendra.

Merasa tidak memiliki salah apapun, MD pun balas menghardik MD dengan tidak kalah sengit. MD mengatakan bahwa Hendra tidak memiliki hak apapun untuk mengatur dan mengusirnya dari rumah kontrakan itu. “Saya salah apa? Kamu itu siapa kok ngusir saya?” lanjur Erna kepada Radar Cianjur.

Setelah itu, kedua pegawai yang sama-sama baru beberapa bulan bekerja di perusahaan transportasi jurusan Jakarta-Sukabumi itu pun terlibat cekcok hebat. Sampai akhirnya, MD melayangkan bogem mentah ke arah pelipis kiri korban dan menanduknya mengenai bagian bibirnya.

Mendapat pukulan yang cukup telak itu membuat Hendra yang memiliki sejumlah tato bermotif batik pada beberapa bagian tubuhnya roboh terjengkang ke belakang. Naas, bagian kepala korban pun terbentur tembok cukup keras hingga mengakibatkan terkapar di lantai dan tidak bisa bangun lagi. “Waktu itu sudah dilerai sama temannya yang satu lagi. Terus pelaku itu pergi begitu saja,” tambah Erna.

Dia menyebutkan, setelah kejadian itu, korban memang tidak langsung tewas. Ia bersama beberapa tetangga lainnya masih melihat Hendra tergeletak di ruang tengah dan masih bergerak-gerak. Bahkan, sekitar pukul 18.30 WIB, ia masih melihat Hendra sempat terbangun dan muntah-muntah di depan kontrakannya. “Sempat bangun sendiri dan muntah-muntah. Tapi muntahnya tidak mengeluarkan apa-apa. Saat itu dia sudah sendirian saja,” sambungnya.

Melihat keadaan itu, ia pun sempat memberikan saran kepada sesama karyawan bus PO Marita untuk membawa ke rumah sakit agar dirawat. Tapi saran itu tidak terlalu digubris dan dikatakan bahwa Hendra hanya sakit biasa.

Merasa iba karena ditinggal sendirian, warga dan tetangga lainnya pun berinisiatif untuk memberikan pertolongan kepada Hendra dengan membersihkan luka dan darah yang keluar dari hidungnya.

“Saya juga sudah menyarankan kepada pengurus Marita untuk dibawa ke rumah sakit. Tapi dibilang hanya sakit biasa dan nanti juga pasti sembuh sendiri,” terang Erna yang semula enggan memberikan keterangan.

Sementara, Kapolsek Cilaku, Kompol Suryo Wirawan mengatakan, kondisi korban ternyata semakin memburuk. Pada bagian hibungnya mulai mengeluarkan darah segar. Kemudian, sekitar pukul 02.00 WIB, Hendra diketahui sudah tidak lagi bernyawa.

“Salah satu rekan korban yang melaporkannya ke Polsek Cilaku dan langsung kami tindaklanjuti,” ujar Suryo ditemui di ruang kerjanya.

Setelah melakukan identifikasi dan cek tempat kejadian perkara (TKP) serta pemerikasaan saksi-saksi, tidak butuh lama bagi pihak kepolisian langsung menangkap DM untuk selanjutnya dimintai keterangan. “Beberapa jam setelah mendapatkan laporan, MD berhasil kami tangkap di sekitar Terminal Pasirhayam,” kata Suryo.

Atas perbuatannya itu, polisi pun menyangkakan Pasal 351 ayat 3 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun. Pasalnya, dalam kasus tersebut, pelaku telah melakukan penganiayaan sampai mengakibatkan seseorang meninggal dunia.

Tapi, lanjut Suryo, pasal dan ancaman hukuman pelaku bisa saja bertambah. Pasalnya, jika dari hasil fisum menyatakan bahwa korban meninggal akibat pukulan MD, maka sangat dimungkinkan untuk diberikan tambahan pasal.

“Kita lihat dulu hasil fisumnya nanti seperti apa dan hasil pemeriksaan terhadap pelaku. Karena pemeriksaan juga masih dilakukan,” ujar Suryo.

Ditemui terpisah, Staf Forensik RSUD Kabupaten Cianjur, Soni Irawan mengatakan, ada beberapa luka pada tubuh korban. Diantaranya lebam pada pelipis, luka robek pada bibir bagian atas serta benjolan pada bagian belakang kepala.

“Kami masih belum bisa menyimpulkan apakah korban meninggal akibat luka di bagian belakang kepala atau yang lainnya, karena masih harus dilakukan fisum,” terang Soni.(ruh)