Bakar Jaring, Nelayan Protes Kebijakan Menteri Susi

Ilustrasi
SOAL LOBSTER: Para nelayan menggelar aksi protes dengan membakar jaring di Pelabuhan Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Selasa (20/1).
SOAL LOBSTER: Para nelayan menggelar aksi protes dengan membakar jaring di Pelabuhan Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Selasa (20/1).

POJOKSATU – Para nelayan di pesisir Grajagan, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, menggelar aksi di TPI Grajagan, Selasa (20/1). Mereka memprotes kebijakan Menteri Perikanan dan Kelautan (Menperiklut) Susi Pujiastuti yang melarang ekspor lobster dengan berat di bawah 300 gram dan panjang kurang dari 8 cm. Padahal, selama ini, lobster tangkapan mereka rata-rata memiliki berat 100 gram.

Sambil mengusung sejumlah poster, para nelayan yang didukung pedagang dan pengepul lobster itu berkeliling kampung sambil melakukan orasi. Sebagai puncaknya, mereka membakar jaring dan membuang lobster di jalan sebagai bentuk matinya kehidupan para nelayan Grajagan. ”Menteri Susi telah menyengsarakan nelayan Grajagan,” ujar Suparyanto, juru bicara nelayan.

Menurut dia, Peraturan Menperiklut Nomor 1 Tahun 2015 tentang penangkapan lobster, kepiting, dan rajungan tersebut dianggap membunuh kehidupan nelayan Grajagan yang selama ini dikenal sebagai pemburu lobster. Supariyanto yang mengaku berjualan lobster sejak 1987 menyatakan, nelayan Grajagan biasanya menyetor lobster dengan ukuran sekitar 4 cm dan berat sekitar 100 gram. Itu sudah bisa diekspor.

Berdasar peraturan baru, lobster yang bisa diekspor tersebut hanyalah yang memiliki panjang 8 cm dengan berat di atas 300 gram. ”Kalau aturan itu diberlakukan, lobster hasil tangkapan nelayan Grajagan tidak bisa diekspor,” ungkapnya. Para pedagang lobster di Grajagan, terang dia, selama ini menjual lobster ke salah seorang supplier di Bali. Selanjutnya, lobster itu diekspor.


Para supplier yang biasanya menampung lobster dari Grajagan, terang dia, sekarang tidak mau menerima lobster lagi sehingga para pedagang dan pengepul tidak bisa menjual lobster. ”Dua hari ini kami sudah rugi Rp 23 juta,” katanya.

Suparyanto menyampaikan, aturan baru tersebut sangat menyakiti rakyat kecil, terutama para nelayan. Apalagi, ukuran lobster di perairan Jawa bagian selatan tersebut di bawah 8 cm. ”Saya kira Menteri Susi tahu kondisi ini karena dulu juga pernah ambil ikan ke sini,” tuturnya.

Sekadar diketahui, Menperiklut Susi Pujiastuti melarang penangkapan lobster, kepiting, dan rajungan dari spesies tertentu yang sedang bertelur dan ukuran tertentu. Dalam aturan tersebut juga dijelaskan, yang boleh ditangkap untuk lobster Panulirus spp itu di atas 8 cm, kepiting Scylla spp dengan ukuran karapas di atas 15 cm, dan rajungan Portunus pelagicus spp dengan ukuran karapas di atas 10 cm. (ddy/c1/abi/JPNN/c22/any)