Sayap Pesawat Sudah Diikat

Seperti tangkapan besar, evakuasi ekor pesawat terus mendapat pengawalan ketat menuju Pangkalan Bun. (AFP PHOTO/POOL/ADEK BERRY)
Seperti tangkapan besar, evakuasi ekor pesawat terus mendapat pengawalan ketat menuju Pangkalan Bun. (AFP PHOTO/POOL/ADEK BERRY)
Seperti tangkapan besar, evakuasi ekor pesawat terus mendapat pengawalan ketat menuju Pangkalan Bun. (AFP PHOTO/POOL/ADEK BERRY)

POJOKSATU – Upaya evakuasi badan pesawat pesawat AirAsia QZ8501 terus dilakukan. Hanya saja, penyelaman yang dilakukan Basarnas dan TNI-AL di lokasi jatuhnya pesawat belum membuahkan hasil maksimal.

Dari sembilan titik yang menjadi sasaran penyelaman, baru bagian sayap yang berhasil diikat.

Badan pesawat hingga kemarin (19/1) belum tersentuh karena kondisi di bawah permukaan air tidak memungkinkan.

Berdasar informasi dari KRI Banda Aceh, penyelaman dimulai pukul 08.00. Saat itu kecepatan arus di bawah permukaan laut sudah 1 knot atau 2 kilometer per jam. Kecepatan tersebut terus bertambah hingga siang. Selain itu, jarak pandang penyelam sangat pendek, yakni kurang dari 1 meter.


Akibatnya, penyelaman tidak berlangsung lama. Panglima Komando Operasional Angkatan Udara (Pangkoopsau) I Marsekal Muda (Marsda) TNI Agus Dwi Putranto mengatakan, kondisi alam tidak memungkinkan penyelaman berlangsung lama. Karena itu, mereka segera naik ke permukaan. “Hanya bagian sayap yang berhasil diikat,” ucapnya.

Agus menyaksikan langsung proses penyelaman bersama Panglima Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI Widodo. Dia berada di KRI Banda Aceh yang masih berlayar di tengah perairan Selat Karimata.

Menurut Agus, kerja keras tim di lapangan terus dimaksimalkan. Namun, sasaran belum tercapai. Misalnya, badan pesawat yang diduga di dalamnya masih banyak korban belum terikat. Penyebabnya, jarak pandang pendek dan sebagian badan sudah tertutup lumpur. “Butuh waktu agar badan pesawat bisa terangkat,” kata dia.

Sambil menunggu upaya penyelam masuk ke dasar laut, KRI Banda Aceh kembali ke Semarang tadi malam. Langkah itu dilakukan karena bahan bakar minyak mulai menipis.

Dijadwalkan, pagi ini kapal tersebut sudah berada di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Setelah mengisi bahan bakar, kapal akan kembali ke Selat Karimata.

Agus menegaskan, kembalinya KRI Banda Aceh ke Semarang tidak berarti proses pengangkatan berhenti. Hari ini masih ada penyelaman. Mereka sementara bersiaga di kapal Crest Onyx.

Sambil menunggu KRI Banda Aceh, penyelaman ke dasar laut tetap dilaksanakan. “Operasi tidak berhenti sama sekali,” ungkap dia. (riq/c9/end)