Ini Penyebab Tragedi AirAsia QZ8501

Petugas Basarnas memotong ekor pesawat AirAsia QZ8501, 12 Januari. (AFP PHOTO)

POJOKSATU – Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan membeberkan dugaan penyebab jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Menurut Jonan, pesawat nahas yang menewaskan 162 orang, itu naik terlalu cepat hingga melewati batas normal.

Jonan mengatakan pesawat AirAsia QZ8501 naik pada kecepatan 6,000ft (1,828m) per menit. Tidak ada pesawat komersil atau jet tempur mencobanaik begitu cepat.

“Pada menit terakhir, pesawat naik lebih cepat dari kecepatan normal. Hal itu membuat pesawat terhenti mendadak,” ujar Jonan seperti dilansir dari BBC, Selasa (19/1/2015).

“Saya pikir sangat jarang pesawat, bahkan jet tempur naik dengan keccepatan 6,000ft per menit,” kata Jonan saat memberikan penjelasan di DPR.


“Kecepatan rata-rata pesawat komersial berkisar antara 1.000 dan 2,000ft per menit karena tidak dirancang untuk melambung begitu cepat,” imbuhnya.

Sebuah sumber yang dekat dengan temuan awal penyelidikan itu mengatakan kepada kantor berita Reuters bulan lalu bahwa data radar muncul dan menunjukkan AirAsia QZ8501 telah melakukan penerbangan “luar biasa” yakni naik curam sebelum jatuh. Kecepatannya mungkin melebihi kecepatan jet.
Berlakukan Aturan Baru

Menteri Jonan juga mengusulkan perubahan untuk meningkatkan standar keselamatan penerbangan.
Kemenhub merekomendasikan kenaikan gaji untuk kru pemeliharaan dan pejabat inspeksi keselamatan.

“Aplikasi untuk izin trayek dan izin angkutan udara akan dipindahkan secara online pada bulan Februari,” imbuhnya.

Menteri Jonan menambahkan, sejumlah aturan baru mengenai izin dan keamanan, termasuk pemeriksaan kesehatan bagi awak pesawat dan pengendali lalu lintas udara, sudah dilaksanakan.

“Ini adalah kebiasaan di antara maskapai yang kadang-kadang mereka menjual tiket sebelum mereka memperoleh izin rute,” katanya seperti dikutip Reuters.

“Sekarang izin trayek harus diperoleh empat bulan sebelum penerbangan dan maskapai penerbangan tidak akan diizinkan untuk menjual tiket sebelum itu,” tambahnya. (BBC/Reuters/one)