Sisi Lain Rani, Pendiam dan Aktif Mengaji

Ayah Rani (kanan) didampingi seorang ustadz di sela-sela pemakaman Rani
Ayah Rani (kanan) didampingi seorang ustadz di sela-sela pemakaman Rani
Ayah Rani (kanan) didampingi seorang ustadz di sela-sela pemakaman Rani

Nama Rani Andriani mendadak terkenal beberapa hari terakhir ini. Perempuan kelahiran Cianjur 38 tahun silam itu divonis mati oleh Pengadilan Negeri Tangerang 22 Agustus 2000 lalu karena kedapatan menyelundupkan 3,5 kilogram heroin 3 kilogram kokain.

Laporan: Guruh Permadi

Rani Andriani dilahirkan dari keluarga yang cukup sederhana dan dibesarkan di Jalan Prof. Moh. Yamin, Gang Edi II RT 3 RW 3, Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur. Rani tumbuh menjadi remaja yang tidak banyak tingkah dan pendiam.

Dari hasil perbincangan dengan Jujun Junaedi, Ketua RT setempat, Rani disebutnya sebagai sosok pribadi yang ramah, baik, dan suka bergaul. Jujun pun mengisahkan, semasa kecil Rani, dia selalu aktif mengikuti pengajian.


“Teh Rani itu aktif ikut ngaji bereng teman-temannya. Ia juga anak yang pintar, pandai berbahasa Inggris,” kenang Jujun.

Rani menghabiskan jenjang pendidikannya di Cianjur. Ia merupakan lulusan Sekolah Dasar Negeri Sayang 3. Ia menamatkan sekolah menengah pertamanya di SMP Negeri 1. Bahkan, Rani juga menyelesaikan pendidikan menengah atasnya di SMA Pasundan 1, salah satu sekolah terfavorit di Cianjur.

“Dia selalu masuk sekolah negeri favorit dari SD sampai SMA,” kata Jujun.

Selain cukup berprestasi, Rani juga aktif dalam organisasi karang taruna di kampungnya itu. Bahkan, beberapa program yang hingga kini masih berjalan pun hasil dari gagasan Rani ketika menjabat sebagai Sekretaris Karang Taruna.

“Pengajian rutin itu gagasan Teh Rani. Jumat bersih juga sampai sekarang masih berjalan,” katanya.
Namun, kata Jujun, setelah lulus SMA, warga sekitar sudah tidak banyak mendengar kabar soal Rani lagi. Terakhir, kabar yang mereka dengar bahwa Rani melanjutkan kuliah di Bogor.

Rani merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia mempunyai dua adik perempuan yakni Poppi dan Mila. Ayahnya, Andi Sukandi berwiraswasta, sedangkan ibunya sudah meninggal sekitar dua tahun lalu karena penyakit diabetes yang dideritanya.

“Setelah Rani tertangkap, rumah itu dijual pada 2001. Bapaknya pindah ke Batam, ikut saudaranya,” katanya.

Sementara, teman sepermainan dan juga tetangga Rani, Iwan Setiawan, mengenal sosok Rani sebagai pribadi yang pendiam dan cukup berprestasi di sekolahnya. Satu hal yang paling diingatnya adalah kegemaran Rani yang kerap menulis puisi.

“Rani sering membuat puisi. Biasanya itu dia pakai untuk semacam curhat. Tapi sayangnya saya tidak menyimpannya,” ujar Iwan.

Pria yang akrab disapa Iwan Patlot itu mengatakan, Rani memang tidak pernah memilih dalam bergaul dan berteman. Ia pun mengaku, Rani sudah cukup sering bermain ke rumah Iwan yang ketika itu menjadi tempat nongkrong.

“Rani biasanya dua kali seminggu ke sini untuk nongkrong. Kadang malah lebih. Keluarga saya juga sudah sangat mengenal Rani. Makanya kalau dia ke sini, dia pasti langsung ke lantai dua karena memang di situ tempat nongkrongnya,” terangnya.

Iwan menyebut, perubahan dalam diri Rani mulai terlihat ketika ia putus dari Asep, pacarnya ketika duduk di bangku SMA. Setelah itu, Rani sudah mulai merokok dan mengkonsumsi obat-obatan di luar dosis yang ditentukan.

“Seperi bodrex langsung dia minum empat butir,” ujarnya.

Iwan tidak diam saja. Ia pun menanyakan kenapa dia berubah seperti itu. Kepada Iwan, Rani berkata bahwa ia stres dan tertekan setelah diputus oleh pacarnya itu.

“Namanya remaja kan memang emosinya labil. Tapi setahu saya, hal itu tidak berlangsung lama,” jelas dia.

Dari informasi yang diperoleh Radar Cianjur dari berbagai sumber, setelah tinggal di Bogor, Rani sebenarnya bekerja sebagai pelayan restoran. Keterlibatannya dengan dunia narkoba juga sebenarnya bukan hal yang diinginkannya sama sekali.

Berawal dari terdesak karena harus melunasi hutang dari sebuah bank, Rani pun rencananya akan berhutang kepada supupunya, Meirika Franola alias Ola sebesar Rp5 juta. Namun, ketika itu, Ola mengatakan bahwa ia tidak memiliki uang. Kepada Rani, Ola malah menawarkan pekerjaan sebagai kurir narkoba kepada Rani dengan upah yang cukup besar setiap pengiriman.

Bisnis haram narkotika jenis heroin dan kokain itu sebenarnya dikendalikan oleh Ola dan suaminya yang warga negara Nigeria, Mouza Saulaiman Domala yang juga komplotan gembong narkoba jaringan internasional.

“Sejak saat itu, Rani jadi sering ke luar negeri. Upahnya Rp1 juta setiap pengiriman. Tugas pertama itu kalau tidak salah ke Bangkok, Thailand,” ujar sumber yang tidak mau namanya disebut itu.

Rani sempat ingin melepaskan diri dan kabur dari jeratan lingkaran setan itu. Namun, akibatnya, Ola, yang masih saudara sepupu Rani selalu menjadi sasaran kemarahan dari suaminya setiap Rani tidak mau melakukan pengiriman.

“Jadi Rani itu kasihan sama Ola. Karena Rani dan Ola itu sangat dekat sekali,” terangnya. (ruh)