PSK Menjamur, Spanduk Antimaksiat Hanya Pencitraan

Spanduk anti kemaksiatan yang terpampang di wilayah Tamansari, dikeluhkan warga karena tidak sesuai dengan kenyataan. dok: Radar Bogor (Grup pojoksatu.id)
Spanduk anti kemaksiatan yang terpampang di wilayah Tamansari, dikeluhkan warga karena tidak sesuai dengan kenyataan. dok: Radar Bogor (Grup pojoksatu.id)
Spanduk anti kemaksiatan yang terpampang di wilayah Tamansari, dikeluhkan warga karena tidak sesuai dengan kenyataan. dok: Radar Bogor (Grup pojoksatu.id)

POJOKSATU – Satu rumah biliar di Kampung Buniaga, Desa Sukaluyu, Kecamatan Tamansari, disinyalir menyediakan pekerja seks komersial (PSK) mulai usia 17 tahun. Spanduk antimaksiat yang dipasang kecamatan, terkesan hanya menyelimuti kemaksiatan di sana.

Akses jalan di kawasan wisata yang tak terpasang penerangan jalan umum (PJU) ini, terlihat sepi dan terkesan tak ada kehidupan jika malam tiba. Namun, di sisi jalan pematang sawah, ada sebuah tempat biliar dengan pemandangan perempuan-perempuan, untuk menemani main hingga menemani tidur. Penjualan miras pun laris untuk menemani permainan bola sodok itu.

Warga setempat, Momo, mengatakan sering main biliar di sana. “Saya sering juga ke sana. Ya, main biliar sambil minum-minum bir, kadang taruhan juga. Cuma gak gede. Kalau mau perempuan juga ada di sini. Cuma agak mahal,” ujarnya kepada Radar Bogor (Grup pojoksatu.id), kemarin.

Sejumlah perempuan berpenampilan tidak terlalu seksi pun nampak menemani pengunjung. Salah seorang pekerja di rumah biliar, Igo, mengaku kalau di tempatnya bekerja itu menyediakan perempuan.


“Kalau mau cewek ada Bang. Mulai 18 tahun ke atas atau 18 tahun ke bawah. Kisaran harga Rp500 ribu untuk shortime atau sekali main. Tapi, tergantung, bisa nego ke ceweknya juga sih. Tapi, kalau malam weekend kamar-kamar hotel suka penuh,” terangnya.

Dia menjelaskan, perempuan-perempuan yang menjajakan tubuhnya itu warga asli Tamansari dan  memang telah lama menjadi gadis panggilan. “Memang nongkrongnya di sini. Karena semuanya warga asli sini,” katanya.

Warga setempat, Rani, merasa jengkel dengan adanya spanduk yang dibuat pemerintah yang bertuliskan bersihnya wilayah dari kemaksiatan. Padahal, kata dia, semua isi tulisan itu tidak sesuai kenyataan di lapangan.

“Jadi, spanduk itu cuma pencitraan,” ketusnya.

Seharusnya, kata dia, sewaktu ada acara Maulid Nabi di wilayahnya beberapa hari lalu, para habib yang datang bisa sekalian men-sweeping lapak yang disinyalir menjadi tempat maksiat.

“Harusnya lapak-lapak maksiat atau hotel-hotel di sini di-sweeping. Itu semua jadi merusak moral warga Tamansari kalau terus dibiarkan,” katanya.

Kapolsek Tamansari, Iptu Sudin Muhammad menjelaskan, pemasangan spanduk yang tidak sesuai dengan kenyataan itu adalah kewenangan camat. “Itu urusan camat. Kalau kami hanya mengamankan dengan patroli rutin. Tapi, jika ada miras atau PSK pasti kami tindak,” ujarnya. (rp8/b)