Batu Akik ‘Kian Santang’ Bogor yang Tersohor di Daerah Tetangga

Ini batu akik 'Kian Santang' Bogor yang tersohor di daerah tetangga. Foto: Dok. Radar Bogor (Grup Pojoksatu)
Ini batu akik ‘Kian Santang’ Bogor yang tersohor di daerah tetangga. Foto: Dok. Radar Bogor (Grup Pojoksatu)

POJOKSATU – Tak kalah heboh dari batu akik ‘Black Aren’ yang kini sudah diolah oleh sejumlah pengrajin batu akik di RT 01/03 Kampung Bobojong Desa Cidamar Kecamatan Cidaun Cianjur selatan. Batu akik asal Bogor ‘Kian Santang’ juga kini jadi primadona dan banyak diburu dari berbagai daerah. Ini cerita dari batu akik asal Bogor yang tersohor itu, yang ditelusuri Radar Bogor (Grup Pojoksatu).

Batu akik ini memiliki corak khas hitam dengan urat merah tak beraturan. Mirip batu Pancarwarna yang juga asli Bogor. Hanya saja, corak urat Kian Santang lebih tipis dan tajam. Sementara corak Pancawarna mirip bercak. Tekstur Kian Santang juga begitu keras. Tak semua para pengrajin batu dapat dengan mudah memecah dan menghaluskan batuan ini.

“Ini batu paling keras yang pernah saya buat sejak sepuluh tahun teakhir. Untuk menghaluskannya harus ditekan dan butuh waktu tiga jam. Berbeda dengan batu Safir yang hanya ditempelkan saja dan beres selama sepuluh menit,” ujar Beni Gunawan (31) pengrajin batu akik asal Kampung Cigowong, Desa Sukamaju.

Batu Kian Santang pertama kali ditemukan Muhamad Jafar Sodik (43) empat bulan lalu, saat mengembalakan kerbau di Bukit Sanghyang. Sebagai penemu, pria yang bermukim di Kampung Cigowong, RT 02/10, Desa Sukamaju, Kecamatan Cigudeg, ini jadi terkenal. Rumahnya kerap kebanjiran tamu. Suasana kian ramai setelah para tetangga mengambil untung dengan membuka jasa penggosokan batu.


Radar Bogor (Grup Pojoksatu) kemudian diajak ke Bukit Sanghyang, tempat Kian Santang ditemukan. Jalanannya yang berlumpur dan terjal membuat perjalanan memerlukan waktu hingga satu jam setengah. Sesampainya di lokasi, terlihat batuan berdiameter dua meter menyembul ke atas tanah dengan dikelilingi semak belukar.

Batu tersebut terdiri dari banyak laporan. Lapiran pertama berwarna hitam dengan corak merah. Bongkahan di lapisan kedua berwarna putih gading. Sementara di lapisan ketiga berwarna merah. Bongkahan dil apisan ke empat berwarna kuning kecokelatan.

Jafar mengatakan, banyak para pemburu batu kepayahan untuk mendapatkan secuil batu khas Bogor ini. Sekalinya ketemu, mereka sulit mengangkat ataupun memecahkannya. Banyak pahat yang bengkok ketika hendak membelah batuan ini.

“Batu ini tak sembarang bisa dibelah. Jika memang berjodoh, sekali tempa pun bisa pecah. Tapi kalau tidak, mau pakai apa pun susah terbelahnya. Coba saja sendiri,” jelas Jafar sembari menawarkan pahat dan palunya kepada wartawan koran ini. Benar saja, tak secuil bongkahan pun didapat setelah berulang kali menempa pahat ke batuan raksasa tersebut.

Harga Kian Santang di pasaran masih relatif miring. Masih berada di kisaran Rp500 ribu hingga Rp3 juta. Karena ragam corak yang eksotis dan tingkat kekerasan setingkat feldspar (sekeras baja), membuat Kian Santang mulai disukai kolektor dari Sukabumi, Banten, dan Tangerang. Namun sayang, belum bisa nge-hits di Bogor. “Ya memang belum ngetren di Bogor,” tuturnya. (all/cr1/rp2/ps)