Rani Mati, Olla dan Deni Selamat, Pengacara Tuntut Keadilan

Ratusan warga meluber di area pemakaman Rani. Foto Guruh/pojoksatu
Ratusan warga meluber di area pemakaman Rani. Foto Guruh/pojoksatu
Ratusan warga meluber di area pemakaman Rani. Foto Guruh/pojoksatu

POJOKSATU – Kuasa hukum Rani Andriani, Yudi Junadi, menyesalkan eksekusi mati terhadap kliennya. Menurut dia, Rani bukanlah bandar narkoba dan hanya sebagai kurir.

“Usia Rani kan masih muda. Dia bukan bandar. Aspek psikologisnya juga tidak dipertimbangkan oleh hakim,” tegas Yudi melalui pesan BlackBerry Masangernya, Mingu (18/1).

Yudi menganggap kasus Rani, Olla, dan Dani satu paket dengan kasus hukum yang sama. Atas dasar itu, sudah seharusnya apa yang diterima Rani, juga diterima oleh Olla dan Dani.

“Ini janggal. Bagaimana bisa putusannya berbeda? Grasi Olla dan Deni dikabulkan, kok Rani malah ditolak?” ungkap Yudi.


Lebih lanjut, Yudi mengaku tidak tahu pertimbangan ketika grasi Olla dan Deni diterima, sementara Rani ditolak. Karena itu, ia pun menuntut kepada Presiden Joko Widodo agar menjelaskan hal itu kepada publik.

“Ini yang harus dijelaskan oleh Presiden Joko Widodo kepada publik,” imbuh Yudi.

Dengan eksekusi yang diterima oleh Rani itu, Yudi menyatakan tetap tidak akan setuju dengan hukuman mati untuk siapapun. Pasalnya, hal itu melanggar HAM dan tidak seusai dengan aturan Amnesti Internasional.

“Saya tetap tidak setuju dengan hukuman mati bagi siapapun karena melanggar HAM dan tidak sesuai dengan aturan Amnesti Internasional. Terbukti, hukuman mati tidak memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan yang lainnya” pungkasnya.

Rani dieksekusi mati pada Minggu (18/1/2015) pukul 00.23 WIB. Eksekusi dilangsungkan bersamaan dengan lima terpidana mati lainnya, yakni Namaona Denis (Malawi), Marco Archer Cardoso Moreira (Brasil), Daniel Enemuo (Nigeria), Tran Thi Bich Hanh (Vietnam), dan Ang Kiem Soei (Belanda, kelahiran Fakfak).  (ruh)