Usut Rekening Gendut Plt Kapolri !

Badrodin Haiti
Badrodin Haiti
Badrodin Haiti

POJOKSATU – Polemik penetapan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka rekening gendut bak bola panas yang terus menggelinding.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta tidak hanya fokus menelusuri rekening gendut Budi Gunawan. Tapi juga membidik semua petinggi polri yang memiliki rekening gendut, termasuk rekening gendut pelaksana tugas Kapolri, Komisaris Jenderal Badrodin Haiti.

Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Syafriadi Cut Ali, meminta KPK bersikap adil dengan mengusut rekening gendut Badrodin Haiti. Pengusutan itu penting untuk menerapkan asas keadilan dan sama rata dalam hukum. “Jangan seolah-seolah ada tebang pilih,” ujar Syafriadi.

Syafriadi mengatakan, kasus rekening gendut yang pernah menjerat Badrodin tidak jauh berbeda dengan yang menjerat Budi Gunawan. Kasus itu sama-sama meledak pada 2010 dan telah diselidiki Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri. Bedanya, KPK melanjutkan pemeriksaan rekening milik Budi dan menetapkannya sebagai tersangka.


Dikatakan Syafriadi, KPK seharusnya melanjutkan penelusuran rekening gendut milik Badrodin. Bila memang KPK menganggap rekening Badrodin bersih, komisi antirasuah itu juga harus mengumumkan pada publik.

Menurut dia, penjelasan dari KPK akan mencegah munculnya ketidakpercayaan publik atas kepemimpinan Badrodin sebagai pelaksana Kapolri.

Transaksi keuangan Keuangan yang disetor ke kepolisian pada 2010, Badrodin termasuk jenderal yang disebut memiliki rekening tidak wajar. Badrodin tercatat pernah membeli polis asuransi senilai Rp 1,1 miliar. Pada 2003-2004, ketika menjadi Kepala Kepolisian Kota Besar Medan, Badrodin menarik dana Rp 700 juta.

Ada pula setoran dana Rp 120-343 juta dengan underlying transaction yang tidak jelas. Lalu lintas uang ini dianggap tidak sesuai dengan profil Badrodin saat itu, yang gajinya hanya Rp 22 juta.

Kekayaan Badrodin selama enam tahun juga meningkat pesat. Menurut Laporan Harta Kekayaan Negara ke KPK, kekayaannya saat ini Rp 8,2 miliar dan US$ 4.000. Sedangkan pada 2008, kekayaannya hanya Rp 2,9 miliar dan US$ 4.000. (one)