Sekeluarga Jual Lima Perempuan ke Batam

KORBANKAN TETANGGA: Polisi menunjukkan tiga tersangka dan barang bukti hasil pengungkapan kasus trafficking di sebuah karaoke plus-plus.
KORBANKAN TETANGGA: Polisi menunjukkan tiga tersangka dan barang bukti hasil pengungkapan kasus trafficking di sebuah karaoke plus-plus.
KORBANKAN TETANGGA: Polisi menunjukkan tiga tersangka dan barang bukti hasil pengungkapan kasus trafficking di sebuah karaoke plus-plus.

POJOKSATU – Berdalih memberi pekerjaan dengan bayaran tinggi, Liem Gien Lan Nio alias Lena menjual lima perempuan muda Surabaya ke Batam. Mereka dilepas kepada seorang mucikari dan dipekerjakan di tempat karaoke plus-plus. Lena tidak sendirian dalam menjalankan aksinya. Perempuan 53 tahun itu dibantu adiknya, Alexander Halim, 51, dan iparnya, Wong Chen Ai alias Wati, 50.

Alex dan Wati merupakan pasangan suami-istri yang tinggal di Kali Kepiting, Surabaya. Kini keduanya bersama Lena dijebloskan ke tahanan Polrestabes Surabaya. Aksi perdagangan manusia tersebut dibongkar unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya. ”Kasus trafficking ini terbongkar setelah dua korban melapor ke Bapemas Surabaya yang kemudian diteruskan ke kami,” kata Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sumaryono, Jumat (16/1).

Laporan tersebut masuk pada Sabtu (10/1). Ketika itu, dua perempuan yang dijual keluarga Lena, yaitu DS, 24, dan DL, 28, melapor bahwa mereka beberapa hari sebelumnya kabur dari sebuah mes di Batam. Keduanya menyebut pada pekan pertama Desember 2014 diterbangkan Lena ke Batam bersama tiga perempuan lainnya. Ketiganya adalah YN, 21, yang masih sepupu DS; DN, 30; dan CD, 24.

Sebelum diterbangkan ke Batam, Lena berjanji mempekerjakan mereka di Batam dengan bayaran tinggi. Awalnya, yang ditawari adalah DS dan DL yang merupakan tetangga Lena di Grudo, Tegalsari, Surabaya.


”Kepada keduanya, tersangka Lena menjanjikan bahwa mereka akan bekerja di tempat karaoke di Batam. Tugasnya menjadi kasir dan pelayan makanan dengan bayaran tinggi,” terang Kanit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya AKP Imaculata Sherly Mayasari.

Tergiur dengan janji Lena, DS mengajak serta YN. Selain itu, Lena berhasil membujuk DN dan CD. Setelah sepakat, Lena memberikan pinjaman rata-rata Rp 5 juta kepada kelimanya. Uang tersebut berasal dari MR, mucikari asal Batam. Kelimanya lantas dibelikan Wati tiket pesawat ke Batam. ”Tiket beli dua kali. Sebab, yang penerbangan pertama gagal karena mereka terlambat sampai bandara,” sebut Sumaryono. Kelimanya berangkat ke Bandara Juanda dengan diantar Alexander Halim.

Sesampai di Batam, kelimanya dijemput MR. Di sana mereka lantas dipekerjakan di Karaoke Maestro. Di tempat tersebut ternyata mereka tidak sekadar menjadi kasir dan pelayan makanan. Tapi, kelimanya juga diharuskan melayani tamu untuk berhubungan badan. Kelimanya ditempatkan di sebuah mes yang dijaga ketat.

Karena tidak sesuai dengan janji, kelimanya berontak. Mereka bertahan untuk tidak melayani permintaan hubungan badan dengan lelaki hidung belang. Akhirnya, empat perempuan berhasil kabur pada pekan pertama Januari lalu. Setelah tiba di Surabaya, DS dan DL melapor ke Bapemas Surabaya, lalu diteruskan ke Polrestabes Surabaya.

Berdasar laporan itu, polisi melacak posisi Lena dan adiknya. Ketiganya akhirnya dibekuk pada Selasa malam (13/1). Esoknya polisi bergegas terbang ke Batam untuk memburu MR yang merupakan partner kerja Lena dan adiknya. Ternyata, MR kabur begitu mendengar kabar Lena tertangkap. ”Kami memang belum berhasil menangkap MR. Tapi, kedatangan kami ke Batam berhasil membebaskan YN dan seorang korban lainnya berinisial FR yang berusia 15 tahun asal Medan,” jelas Sumaryono.

Dengan penangkapan tersebut, Lena, Alex, dan Wati dijerat pasal 2 UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Orang. ”Saya tidak berniat menjual. Kami hanya membantu teman yang butuh pekerjaan. Dari kegiatan ini, saya mendapat upah Rp 5 juta,” dalih Lena.

Dia menyebut, semua itu berawal dari permintaan Wati yang membutuhkan bantuan untuk mencari pekerja perempuan setelah dikontak temannya di Batam. ”Awalnya, saya tidak hiraukan. Tapi, Wati datang lagi, kemudian saya carikan,” ujar Lena. Menurut dia, Alex dan Wati juga mendapatkan upah. Alex mendapatkan Rp 1 juta, sedangkan Wati Rp 500 ribu. (fim/c6/git)