TPS ‘Dolar’ Diserbu Ratusan Warga

Salah seorang warga kampung Parung Dengek, desa Wana Herang, Kec. Gunung Puti, Bogor, Jawa Barat menunjukkan dollar yang berhasil didapatkannya dalam tumpukan sampah di TPS PT. Samba Paper.
Salah seorang warga kampung Parung Dengek, desa Wana Herang, Kec. Gunung Puti, Bogor, Jawa Barat menunjukkan dollar yang berhasil didapatkannya dalam tumpukan sampah di TPS PT. Samba Paper.

POJOKSATU – Keberadaan ‘tempat pembuangan sampah (TPS) dolar’ di Kampung Dengdek, Desa Wanaherang, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, langsung menjadi magnet bagi warga luar Bogor.

Hingga Jumat (16/1/2015), ada 700 warga diketahui mengais rezeki di TPS Dolar. Dari jumlah itu, 40 persennya adalah pendatang dari luar Jawa Barat.

“Pendatang dari Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur, red) sudah mulai banyak. Mereka menikah dengan warga sekitar. Karenanya diperbolehkan mencari dolar. Tadinya ada sekitar 500 orang, saat ini sudah bertambah hingga 700 warga yang mulung,”ujar Sekdes Wanaherang, Kosasih kepada Radar Bogor.

Setelah kabar ditemukannya dolar di TPS Dengdek beredar luas, karyawan PT Aspex Kumbong, perusahaan yang notabene penyumbang sampah terbanyak di TPS itu, pun ikut nimbrung mengais sampah. Kosasih mengakui, para karyawan perusahaan itu tak sungkan bergabung dengan para pemulung lainnya. “Jadi, sekarang banyak karyawan yang juga ikut turun, ”akunya.


Ibarat dua mata pisau, TPS Dolar ini juga memberi implikasi buruk bagi  warga. Pendidikan anak-anak di Kampung Dengdek justru berantakan. Pasalnya, mayoritas orang tua di sana selalu membawa anaknya untuk mencari dolar. Sementara hak sekolah untuk sang anak pun dilupakan.

“Ada saja yang datang bawa anak. Karena, yang sering dapat banyak (dolar, red) biasanya anak-anak. Mungkin karena mereka belum terlalu banyak dosa,” terang Juki (31), pemulung TPS Dengdek.

Selain tak bersekolah, sejatinya keamanan anak-anak di TPS tersebut cukup mengkhawatirkan. Pasalnya, tak sedikit limbah jarum suntik, pecahan botol, gelas dan piring, yang sewaktu-waktu bisa melukai kaki kecil mereka.

Nisa, bocah berusia enam tahun yang sudah 12 bulan menjadi pemulung di TPS Dolar mengaku, kegiatan mengais sampah tak hanya dilakukannya di siang bolong, tapi juga di malam hari.  “Kalau malam pernah. Sama ibu dan kakek,” bebernya.

Terpisah, Camat Gunung Putri, Budi Lukman Hakim, ternyata baru mengetahui keberadaan TPS Dolar di wilayahnya. “Saya tak tahu detailnya TPS itu mulai ramai, apalagi sampai ditemukan dolar segala,” ucapnya.

Perihal keberadaan anak-anak yang putus sekolah, Budi pun kembali mengaku belum mengetahuinya. “Info ini pun baru saya tahu. Pastinya, kami akan cek dan jika benar ada yang tidak sekolah orang tua mereka akan kami tegur. Bagaimanapun, masa depan anak salah satunya ada di pendidikan mereka,” tandasnya. (azi/c/ps)