Ini Pesan Terakhir Gadis Cianjur Sebelum Ditembak Mati

tembak, penembakan, pistol
ilustrasi
809419_09425507062014_69Ilustrasi-penembakan
ilustrasi penembakan

POJOKSATU – Enam terpidana mati perkara narkotika akan dieksekusi, Sabtu (18/1). Lima napi di Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan. Satu lainnya di Boyolali, Jawa Tengah. Para terpidana mati itu dieksekusi tengah malam pukul 00:00.

Lima terpidana mati yang akan didor di Nusa Kambangan yakni, Namaona Denis (48), Warga Negara Malawi,  Marco Archer Cardoso Moreira (53), WN Brazil, Daniel Enemuo alias Diarrassouba Mamadou (38), WN Nigeria, Ang Kiem Soei alias Kim Ho alias  Ance Tahir (62), kewarganegaraan tidak jelas. Kemudian,  Rani Andriani alias Melisa Aprilia, gadis asal Cianjur, Jawa Barat. Sedangkan satu lainnya yang akan dieksekusi di Boyolali adalah Tran Thi Bich Hanh, (37), WN Vietnam.

Dari enam terpidana mati itu, Rani Andriani paling banyak diperbincangkan publik tanah air. Pasalnya, hanya Rani yang berkewarganegaraan Indonesia dan hanya dia pula perempuan. Siapakah Rani?

Rani dan keluarganya dulu tinggal di Gang Edi II, Kelurahan Sayang, Cianjur, Jawa Barat. Namun kini rumah ini telah dijual kepada orang lain. Rani dikenal sebagai wanita yang baik dan banyak memiliki teman. Selama menjadi warga Gang Edi, Rani dan keluarganya tidak pernah bermasalah.


Warga sangat kaget saat mengetahui Rani terlibat dalam jaringan peredaran narkotika internasional. Keluarga dan kerabat Rani telah berangkat ke Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan sejak Jumat 16 Januari dini hari. Kini Rani diisolasi di ruang Lapas Besi Nusakambangan bersama 3 orang terpidana mati lainnya.

Rani dalam pesan terakhirnya meminta dimakamkan di samping makam ibunya di Desa, Ciranjang, Cianjur. Selain itu Rani juga didampingi oleh seorang pemuka agama Kiai Haji Hasan Makarim.

Rani Andriani alias Melissa merupakan terpidana kasus penyelundupan heroin seberat 3,5 kilogram yang dikendalikan sepupunya, Meirika Franola alias Ola yang juga melibatkan seorang lurah di Cianjur, Deni Setia Marhawan.

Berbeda dengan Rani, kedua terpidana mati Ola dan Deni mendapat grasi dari presiden SBY pada 2012, sehingga hukumannya menjadi seumur hidup.  “Kita putuskan eksekusi mati dilakukan pada tanggal 18, jam 00.00 di dua tempat. Di Nusakambangan dan Boyolali,” kata Jaksa Agung HM Prasetyo. (one)