Nasi Uduk dan Bir Pletok Harus Masuk Minimarket

6266_4893_ok-mini-market-frizal-(1)

POJOKSATU – Minimarket seharusnya memberi kesempatan pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di ibukota untuk berkembang.

Demikian disampaikan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidajat di Balaikota, Jakarta Pusat, Kamis (15/1).

“Seharusnya minimarket berperan serta meningkatkan prekonomian masyarakat yang masuk dalam kategori UMKM,” ujarnya.


Dari data yang diperolehnya pada akhir tahun 2014, Djarot merinci saat ini ada sekitar 2.254 outlet minimarket yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Jumlah ini diyakini akan terus berubah dan meningkat. Apalagi perkembangan karakter masyarakat ibukota yang dinamis mendukung pertumbuhan minimarket. Sayangnya, hanya sedikit saja di antaranya yang mau menjual produk UMKM.

“Perbaikan ekonomi tentunya akan mendorong pertumbuhan waralaba jenis ini (minimarket). Apalagi karakter kita kan suka ngumpul, jadi memang Jakarta itu target empuk pertumbuhan minimarket yang bisa sekaligus digunakan sebagai tempat nongkrong,” katanya.

Meski demikian, Djarot ingin ribuan minimarket itu menopang perkembangan UMKM di ibukota. Seperti, nasi uduk sebagai salah satu makanan tradisional seharusnya disajikan di minimarket yang masuk dalam kategori cafetaria.

“Jangan hanya ngomong mendukung produk lokal tapi nyatanya kalau saya masuk (minimarket dan cafetaria) tidak ada jual nasi uduk. Kalau pun ada yang jual produk lokal diletakkan di belakang, dibiarkan begitu saja. Pembeli pun tidak tertarik melihat,” katanya.

Djarot mengaku akan meminta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta serta Biro Perekonomian DKI Jakarta untuk mendata minimarket mana saja yang sudah menjalankan aturan tersebut. Ia dengan tegas meminta pemilik waralaba menyediakan tempat 10 persen dari area usahanya dijadikan sebagai tempat menjual produk UMKM DKI.

“Kita akan data itu semua. Kuliner Betawi harus masuk minimarket. Pemilik waralaba harus dukung dong perkembangan UMKM. Jadi orang Jakarta itu tahu kalau nasi kuning, bir pletok, soto betawi atau roti buaya itu makanan Betawi. Kami beri peringatan untuk waralaba yang bandel,” katanya.

Ia mengimbau warga DKI untuk lebih mencintai produk UMKM. Kecintaan masyarakat Jakarta terhadap kekayaan kuliner Betawi diyakini Djarot menjadi kunci memperkenalkan ibukota Jakarta ke luar negeri.

“Sesekali selfie pas makan nasi uduk dong. Terus pasang di twitternya. Sama kerennya kok. Kan nasi uduk emang punya kita, Jakarta lho ya he-he-he,” tukas pria yang hobi naik sepeda ini.

Ia menyambut baik rencana waralaba Seven Eleven (Sevel) bekerja sama dengan Pemprov DKI mendukung produk-produk UMKM. Cafetaria ini akan dijadikan percontohan pemasaran produk UMKM di Jakarta.

“Sevel akan jadi percontohan kerja sama pemasaran UMKM. Kita lihat perkembangannya. Harus cepat (diwujudkan),” pungkasnya.(wid)