Marahi Pria Mabuk, Satu Keluarga Masuk Bui

094650_880281_borgol_kecil_3

POJOKSATU – Satu keluarga yang tinggal di sekitar kawasan Industri Sekupang, masuk penjara secara bersamaan. Mereka menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Batam karena berurusan dengan Herick, seorang pria mabuk.

Kemarin (13/1), ketiganya yaitu Ismail (suami), Misnah (istri) dan Yayan (anak) dihadirkan ke persidangan. Didampingi penasehat hukumnya, ketiga terdakwa mendengarkan keterangan saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) Wawan.

Namun hari itu, JPU Wawan tak bisa menghadirkan saksi korban (Herick). Wawan beralasan Herick pulang kampung sehingga pihaknya terpaksa hanya membacakan keterangan BAP di persidangan. Permintaan Wawan awalnya ditolak penasehat hukum terdakwa, tapi karena berbagai pertimbangan permintaan itu, akhirnya dikabulkan majelis hakim.


Keterangan Herick dalam BAP menjelaskan jika dirinya telah dianiaya ketiga terdakwa. Penganiayaan itu berawal saat korban main gitar di depan rumah terdakwa. Kegiatan yang dilakukan korban tak diterima Misnah. Misnah yang biasanya dipanggil Bu De mendatangi korban dan memarahinya. Tak terima dimarahi, korban balik memarahi Bu De. Karena dimarahi, Bu De melapor ke suami dan anaknya hingga terjadi penganiayaan.

”Akibat penganiyaan itu, korban mengalami luka memar dibawah mata dan bagian tubuh lainnya,” kata Wawan menyelesaikan keterangan Herick di BAP.

Keterangan Herick tersebut langsung dibantah ketiga terdakwa. Menurut mereka, penganiyaan itu tak pernah terjadi, apalagi yang membuat Herick sampai mengalami luka memar. Namun, sempat terjadi duel antara Herick dan Yayan. ”Ibu dan bapak saya tak pernah mukul. Sayalah yang berkelahi dengan dia satu lawan satu. Kami terjatuh dan dia memar. Saya juga mengalami luka memar akibat jatuh, bukan hanya dia,” kata Yayan di depan majelis hakim yang dipimpin Merrywati.

Ditambahkan Misnah, kejadian itu berawal saat ia melarang Herick untuk tidak mabuk-mabukan di depan rumah. Larangan tersebut membuat Herick marah dan menyerangnya pakai parang. Tak hanya itu, akibat serangan itu, Misnah mendapat luka sayatan di tangan kiri dan melaporkan kejadian tersebut ke suami.

”Suami saya hanya mendatangi dia dan minta pertanggung jawaban. Tapi dia ngotot dan menantang. Kami tak pernah menganiya, tapi dipolisikan,” terang Misnah.

Penjelasan yang diberikan terdakwa langsung dibatasi hakim Merry. Menurut Merry pembelaan itu bisa disampaikan saat pledoi nanti. Sidang pun ditunda minggu depan dengan agenda menghadirkan saksi yang meringankan terdakwa.

Penasehat hukum terdakwa, Eric Manurung mengaku akan terus mendampingi klienya hingga akhir persidangan. Apalagi dalam hal ini kliennya merupakan korban yang dijadikan pelaku. ”Kita akan buktikan mereka tak bersalah,” sebut Eric usai persidangan. (she)