Katak Merah, Hewan Purba yang Terancam Punah

Katak Merah / bleeding toad. foto / farhan
Katak Merah / bleeding toad. foto / farhan
Katak Merah / bleeding toad. foto / farhan

TETESAN air Curug Cibereum Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) tak hanya menggoda pucuk daun. Berada di kisaran ketinggian 1.500 di atas permukaan air laut dengan suhu 16 hingga 19 derajat Celcius menjadikan tempat ini laksana surga bagi hewan kodok, salah satu hewan purba yang masih tersisa.
Ya bleeding toad atau kodok merah yang dalam bahasa latin disebut leptophryne cruentata. Salah satu hewan kecil dengan ukuran tubuh tak lebih dari 4 centimeter dengan ciri tubuh menyerupai bercak darah.
Kodok merah ini populasinya menurun drastis sejak meletusnya Gunung Galunggung 30 tahun silam. Lantaran sedikitnya individu yang tersisa, hewan yang endemik atau yang hanya ada di Pulau Jawa masuk ke dalam kategori critically endangered atau tingkat keterancaman tertinggi sebelum punah. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan satu dari tiga tempat yang masih bisa ditemukan spesies endemik Pulau Jawa berupa kodok merah.
Humas BBTNGGP Dindin mengaku, berdasarkan seluruh data yang didapat, mulai dari ketinggian tempat, ada tidaknya lubang, jarak dari sumber air, lebar sungai, kecepatan arus, suhu udara hingga suhu air kodok merah itu berada di Air Terjun Curug Cibereum.
“Kodok merah masuk dalam daftar merah lembaga konservasi dunia, International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Beruntung di TNGGP itu terdapat ciri morfologis katak langka ini. Lokasi air terjun Cibereum ini berada pada ketinggian yang sesuai dengan karakteristik hewan terancam punah itu,” paparnya.
Keberadaan kodok merah itu sudah diteliti, dan habitat kodok merah itu selalu dijaga. Meskipun memang jalur tersebut idola bagi para peneliti kodok merah, dan para wisatawan menuju puncak Pangrango.
“Ketinggian sekitar 1.500 meter dari permukaan air laut, merupakan habitat dari kodok merah. Hewan teramat langka itu, diketahui hingga kini masih berada di Curug Cibereum, biasanya mereka hidup dari celah celah batu, aliran air dan semak dedaunan di sekitar Curug Cibereum,” tuturnya.
Diakui pria yang sudah senior di TNGGP itu mengaku di Taman Nasional Gunung Pangrango, banyak kekayaan fauna yang dapat diihat.
“Bagaimana tidak, di TNGGP itu terdapat bunglon dan surilili. Tentunya keaneka ragaman hayati itu harus selalu dijaga dan dilestarikan bersama,” tandasnya.(han)