Sebagai Hadiah Kapolri Baru, Tokoh Teroris Santoso Harus Ditangkap

Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso muncul di You tube

160420_3031_Teroris_Santoso_muncul_di_YouTube_ok

POJOKSATU – Jajaran kepolisian harus segera menangkap tokoh terorisme yang paling dicari, yakni Santoso alias Abu Warda alias Pak De. Penangkapan ini penting dilakukan sebagai hadiah untuk Kapolri baru Komjen Budi Gunawan yang akan dilantik pada 23 Januari mendatang.

Demikian disampaikan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane dalam keterangannya kepada redaksi sesaat lalu (Selasa, 13/1).

IPW memberi apresiasi pada operasi penangkapan yang dilakukan Polri di basis-basis terorisme di Poso, Sulteng dalam seminggu terakhir ini. Kemarin misalnya, Polri berhasil menangkap Imran alias Legenda tokoh jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso. Imran yang ditangkap di rumahnya di Desa Tabalu, Mapane, Poso ini pernah menyembunyikan Santoso.


“Dengan tertangkapnya Imran, Polri harusnya bisa segera menangkap Santoso. Selain untuk hadiah bagi Kapolri baru, penangkapan Santoso juga untuk menekan aksi terorisme di Indonesia di sepanjang 2015,” ujar Neta.

Santoso adalah orang yang memimpin penyerbuan dan pembunuhan terhadap tiga polisi di BCA Palu pada 25 Mei 2011. Selain itu Santoso melakukan delapan kali penyerangan kepada polisi pada 2012 dan menjadi aktor aksi bom bunuh diri di Polres Poso pada 3 Juni 2013. Sejumlah anak buah Santoso sempat menyebar ke Pulau Jawa, khususnya Jakarta. Tapi Polri berhasil menekuk aksi teror yang hendak mereka tebar, terutama di Jakarta.

Di tahun 2014, sambung Neta, Polri cukup berhasil menekan aksi terorisme. Padahal di akhir 2012, Poso dan Solo sempat ‘bergolak’. Kelompok-kelompok radikal melakukan uji nyali menyerang fasilitas Polri, antara lain empat kantor polisi dikirimi bom. Namun di sepanjang 2014, Indonesia aman dari aksi teror bom. Tentunya hal ini berkat kerja keras Polri dalam melakukan deteksi dini dan antisipasi terhadap kantong-kantong potensi radikalisme dan terorisme di Indonesia.

“Setidaknya hal ini terlihat dari berbagai aksi penangkapan yang dilakukan aparat kepolisian terhadap orang-orang yang disebut sebagai teroris,” sebuta dia.

Melihat apa yang dilakukan Polri sepanjang 2013 dan 2014, bisa dikatakan kantong-kantong terorisme di Indonesia saat ini sudah acak-acakan dan berantakan. Sehingga untuk melakukan aksi teror para teroris perlu konsolidasi dan itu tidak mudah.

Namun, lanjut Neta, dengan adanya manuver ISIS dan banyaknya warga Indonesia bergabung dengan ISIS di Timur Tengah, hal ini patut diwaspadai. Sebab bukan mustahil sikap ektrim dan radikal ISIS mereka bawa masuk ke Indonesia dan kemudian menjadi teror bagi masyarakat. “Aparat keamanan sendiri sudah beberapa kali melakukan penangkapan terhadap pengikut ISIS yang hendak menjadikan Jatim sebagai basisnya,” tambahnya.

Terakhir, Neta berharap dengan tertangkapnya Santoso mata rantai radikalisme dan terorisme lokal dengan ISIS bisa diputus, sehingga di 2015 Indonesia aman dari aksi teroris, seperti di 2014 dan penangkapan terhadap Santoso bisa menjadi hadiah bagi Kapolri baru Komjen Budi Gunawan. (rus)