Bima Arya Dilaporkan ke Polisi

POJOKSATU – Aksi Walikota Bogor Bima Arya yang melakukan tangkap tangan terhadap calo perizinan di lingkungan Pemkot Bogor, Senin (12/1/2015) berbuntut panjang.

Seusai tangkap tangan, Bima Arya langsung dilaporkan ke Polres Bogor Kota atas dugaan tindak pidana  penghinaan dan fitnah. Orang nomor satu di Kota Bogor itu dilaporkan oleh Lilis Aryani, Dalimunte, terduga penyuap dalam kasus tangkap tangan tersebut.

Pengacara Lilis, M Iqbal mengatakan, tindakan yang dilakukan Bima Arya tidak sportif. “Dia (walikota) merampas uang klien kami Rp5 juta di warung tanpa tanda terima,” ujar Iqbal kepada wartawan Pojoksatu.id.

Iqbal menuding walikota melakukan langkah gegabah. “Dia asal nuduh saja. Dia suruh klien kami mengeluarkan uang di dalam tas, kemudian dibawa. Ini tidak pantas dilakukan oleh seorang walikota yang berpendidikan tinggi, apalagi dilakukan di depan orang banyak. Ini penghinaan,” imbuhnya.


Atas dasar itulah, kliennya melaporkan Bima Arya ke Polres Bogor Kota pada Senin (12/1/2015) petang. Laporan bernomor STBL/35/I/2015/SPKT itu diterima oleh Ajun Komisaris Polisi D Sudirman.

Sebelumnya diberitakan, Walikota Bima Arya menangkap tangan calo izin di lingkungan Balaikota. Tanpa menunggu lama, doktor Ilmu Politik lulusan Australian National University (ANU) Canberra, Australia 2006, ini langsung menggerebek dan berhasil menangkap tangan calo beserta pengusaha yang sedang bertransaksi.

Usai mendapat informasi sekitar pukul 13:00, Bima bersama ajudan, staf, dan beberapa petugas Satpol PP keluar dari kantor walikota menuju kantor BPPT-PM, berjalan kaki. Lokasinya berdekatan. Hanya beberapa meter dan terpisah oleh bangunan Masjid At Taqwa.

Di kantor BPPT-PM, Bima tak menemukan sosok orang yang diduga sebagai calo tersebut. Dua pintu yang dimasuki di kantor ini, tak membuahkan hasil. Dari gelagatnya, tampaknya suami Yane Adrian ini sudah mengetahui target dari apa yang dilakukannya.

Beberapa menit di dalam kantor BPPT-PM, Bima kemudian keluar dan berjalan menuju kantin di samping gedung. Di tempat ini, matanya langsung tertuju pada dua wanita dan satu pria yang tengah duduk santai di barisan ketiga meja kantin. Belakangan diketahui, mereka adalah Lilis, sang calo, kemudian wanita muda yang juga Direktur PT Acierto Maxindo Rasa, Widi Marthavianti, dan sepupunya, Restu.

Tanpa ba-bi-bu, Bima langsung menegur ketiga orang yang tampak terkejut melihat kedatangan orang nomor satu di Kota Hujan itu. “Ada perlu apa ke sini? Ada yang mencari saya? Saya dapat informasi, ada yang menjual nama saya untuk mendapat tanda tangan perizinan. Saya tidak suka itu,” tegas Bima, dengan nada marah.

Mendapat teguran Bima, dua wanita itu menjawab dengan berbelit-belit. Bima lantas meminta ajudannya untuk menggeledah tas Lilis. Di dalam tas itu ditemukan duit Rp5 juta dalam pecahan Rp50 ribu yang dibungkus dalam amplop cokelat. Bima lantas mempertanyakan uang tesebut, sambil setengah melemparnya ke atas meja.

“Saya sedang ngurus izin untuk bikin restoran. Awalnya saya sendiri tapi dipersulit, dia (Restu, red) kenal duluan sama Ibu Lilis, terus saya dikenalin. Dia bilang bisa bantu, kemudian survei ke lokasi segala macam,” aku Widi kepada pada Bima Arya.

Jawaban Widi dibenarkan oleh sepupunya, Restu. Menurutnya, Widi telah memberi Lilis uang sebelumnya sebesar Rp2 juta. Tapi ternyata masih ada kekurangan, sebab hingga kini perizinan belum mendapat tanda tangan walikota.

“Saya ke rumah Bu Lilis ngasih Rp2 juta. Saya tanya apa lagi yang kurang, katanya tanda tangan BPPT dan walikota. Saya cuma punya bukti chat sama Widi,” ungkap Restu. (one)