Korban Pohon Tumbang KRB, Absen Cium Anak Pertama

Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor

Pasrah. Hanya itu yang bisa dilakukan Yuliatini (45), warga Kampung Kandang Roda RT 02/05, Desa Tari Kolot, Kecamatan Citeureup ini saat harus kehilangan tulang punggung keluarganya pasca insiden Kebun Raya Bogor, kemarin.

Suara bunyi handpone bermerek Cross yang berisi pesan singkat, mengawali kepedihan Yuliatini (45), istri dari Saepulah (46) korban tewas pohon tumbang, kemarin.

Di rumah seluas 100 meter dengan tiga kamar, perempuan yang akrab disapa Yuli ini nampak tegar bercerita masa hidup korban dan detik-detik pertemuan terakhirnya dengan suami tercintanya.

Yuli mengaku mendapat kabar dari teman almarhum, Amir warga Tajur, pada pukul 14:22 WIB. Saat mendapat kabar, dirinya sudah tak bisa berucap, seluruh badannya lemas hingga tak sadarkan diri.


Terlebih saat jasad korban tiba pada pukul 16:30 WIB. Yuli yang baru sadarkan diri, hanya bisa berpasrah dan nampak berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata. “Temannya SMS saya, Bapak meninggal dan ada di PMI. Temannya juga terluka, tapi tidak parah,” terangnya.

Korban berangkat dari rumahnya pada pukul 07:30 WIB dengan alasan hendak rapat di Kebun Raya. Saat kejadian, Amir dan Saepulah berada di posisi tengah keramaian. Tanpa terdengar suara apa-apa, tiba-tiba pohon tumbang dan menimpa gerombolan karyawan yang sedang rapat duduk melingkar.

Meski mengaku tak memiliki firasat, Yuli menyadari ketidakbiasaan suaminya yang pergi dengan tidak mengganti baju dan mengenakan jaket yang sudah kotor. “Biasanya bapak ganti baju. Tadi pagi dia tidak ganti baju dan memakai jaket yang seharusnya saya cuci. Biasanya dia nyuruh saya cuci agar hari Senin bisa dipakai olehnya,” tukas Yuli dengan mata masih sembab.

Selain itu, saat hendak meninggalkan rumah, korban hanya mencium anak keduanya bernama Sekar. Padahal biasanya, korban menyempatkan diri untuk mencium kedua anaknya, Sahrul (12) dan Sekar (4) bersamaan.

“ Saat Sahrul pergi untuk bermain bola, bapaknya mengizinkannya. Biasanya, dia  pasti minta anaknya untuk menunggu bapaknya pergi kerja dahulu agar bisa menciumnya,” tukasnya.

Kejadian yang menimpa Saepul tak hanya membuat istrinya berduka. Saat jasad korban dibawa ke kediaman bapak ibunya di RT 01/03, Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, tempat keluarga besarnya berkumpul, suasana haru sangat terasa. Beberapa keluarga berteriak histeris hingga tak sadarkan diri saat jasad korban tiba.

Jasad Saefupulah berada di RS PMI cukup lama. Keterangan dari Tagana Kota Bogor, lambannya pengiriman jasad Saepulah karena korban mengalami pecah kepala sehingga membutuhkan proses jahit yang memakan waktu lama.

“Korban Saepul adalah korban yang paling terakhir dikirim ke kediamannya, karena lukanya yang paling terparah. Kepala hancur terkena batang. Saat evakuasi kerangka kepala dan otak yang tercecer dibatang kayu pun, kami kemas dalam plastik untuk dijahit oleh dokter PMI,” terang Anggota Tagana Kota Bogor, Idjah Siti Chodijah.

Saepul menjadi salah satu korban tewas kejadian tumbangnya pohon di area Kebun Raya Bogor. Kejadian sekitar pukul 10:00. Secara tiba-tiba pohon dengan diameter 50 cm patah pada bagian tengah batang, sehingga menimpa lebih dari 70 karyawan PT Asata Mandiri Agung yang sedang mendengarkan arahan dari Ketua ISBI, Masikun.  Karena kejadian tersebut, sebanyak 4 orang tewas dan 32 orang luka-luka. (azi/ps)