Dua Pekan, Pencarian AirAsia Habiskan Rp166 Miliar

Ekor AirAsia dievakuasi ke Pangkalan Bun
Ekor AirAsia dievakuasi ke Pangkalan Bun
Ekor AirAsia dievakuasi ke Pangkalan Bun

POJOKSATU – Misi pencarian korban dan bangkai AirAsia QZ8501 sudah berjalan lebih dari dua pekan. Selama itu, Badan SAR Nasional (Basarnas) belum juga mau bicara soal besaran ongkos yang dikeluarkan negara.

Wartawan Radar Bogor (Grup Pojoksatu.id) M Indra, yang kini berada di Pangkalan Bun, Kota Waringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, menelusuri berapa anggaran untuk misi pencarian pesawat nahas itu. Hingga kemarin, Basarnas mengaku belum menghitung berapa biaya yang sudah dikeluarkan.

Namun, mengacu pada PMK No 81/2012 tentang Belanja Bantuan Sosial pada K/L dan PMK No 214/2013 tentang Bagan Akun Standar, setahun lalu negara memberikan anggaran sebesar Rp3 triliun kepada Basarnas untuk kegiatan tanggap darurat penanganan bencana.

Saat ini ada tiga pesawat dan enam helikopter yang dioperasikan Basarnas di Landasan Udara (Lanud) Iskandar Pangkalan Bun. Sembilan ‘burung besi’ tersebut biasa mondar-mandir Selat Karimata untuk membawa hasil temuan tim di sejumlah kapal pencarian. Tak jarang pula pesawat-pesawat tersebut terbang ke Bandar Udara Internasional Juanda, Sidoarjo.


Jenis pesawat yang dioperasikan yakni helikopter Super Puma milik TNI AU yang mampu mengangkut 18 orang, heli Bolcow NBO-105, dan tiga helikopter berukuran sedang (medium range) milik Palang Merah Indonesia (PMI), Polri.

Pengeluaran bahan bakar dari semua pesawat dan helikopter, sedikitnya mencapai 8.000 sampai 9.000 liter avtur per hari. “Untuk helikopter Super Puma saja konsumsi bahan bakarnya membutuhkan 800 liter avtur per satu jam,” ungkap Direktur Operasional Basarnas Marsma SB Supriyadi kepada Radar Bogor, kemarin.

Harga bahan bakar untuk pesawat (avtur) yang ditetapkan Pertamina untuk tiga bulan ke depan tercatat Rp8.934,30 per liter. Jika harga avtur tadi dikalikan dengan kebutuhan satu pesawat seharian penuh, maka biaya bahan bakar saja berkisar Rp64,38 juta. Ketika kembali dikali selama dua pekan, maka ongkos ‘minum’ enam helikopter dan tiga pesawat itu hampir Rp8,1 miliar.

Bagaimana dengan logistik untuk para relawan? Dari data yang didapat, jumlah personel Basarnas yang menyesaki Lanud Iskandar mencapai 253 personel. Itu terdiri atas 89 personel dari Banjarmasin, 37 personel asal Kobar, 45 personel dari Jakarta, ada 15 personel dari Pontianak, dan 67 personel dari Basarnas Pusat.

Sehari-harinya, Pemerintah Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah melalui BPBD Kobar mengalokasi dana logistik sebesar Rp15 juta atau Rp210 hingga dua pekan ini. Anggaran itu pun dirasa masih kurang. Kepala BPBD Kotawaringin Barat, Hermon, mengatakan selama ini pihaknya banyak dibantu pihak swasta untuk mencukupi kebutuhan logistik.

“Sehari kita harus menyiapkan dana sekitar Rp15 juta lebih untuk mengakomodasi kebutuhan logistik dan juga makanan dan minuman bagi para petugas,” ucapnya kepada Radar Bogor.

Anggaran paling besar keluar di Pelabuhan Laut Panglima Utar Kumai, Pangkalan Bun. Di daerah pesisir itu, pemerintah menurunkan 15 kapal untuk mencari AirAsia dengan perincian 13 kapal perang milik TNI Angkatan Laut (AL), 1 kapal Baruna Jaya milik BPPT, dan 1 kapal milik SKK Migas.

“Sementara yang masih di pelabuhan baru lima kapal, sepuluh kapal Indonesia, dan tujuh kapal asing lainnya masih di Selat Karimata,” tegas Plh Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Kumai Suyanto, kemarin.

Ditemui terpisah, Panglima TNI Jenderal Moeldoko membeberkan, satu unit kapal perang kelas fregat dengan panjang sekiar 100 meter membutuh bahan bakar solar Rp900 juta untuk berlayar sehari penuh. Jika 13 kapal TNI semuanya keluar berlayar, maka ongkos yang dihabiskan sehari mencapai Rp11,3 miliar atau Rp158,2 miliar hingga dua pekan ini.

Maka, akumulasi kebutuhan avtur untuk pesawat, solar kapal, dan logistik untuk anggota Basarnas sampai hari ini bisa mencapai Rp166,5 miliar. “Ya, tinggal dijumlahkan saja lah,” ujar jenderal bintang empat itu.

Dikonfirmasi soal ini, Kepala Basarnas FHB Soelistyo hanya bisa tersenyum. Dia berujar singkat bahwa jajarannya belum melakukan perhitungan rinci. “Biaya bahan bakar memang paling besar. Namun tak usah khawatir, biaya yang kami terima tidak terbatas. Itu akan kami lampirkan dalam bentuk laporan keuangan,” jelasnya. (ind/d)