16 Jenazah WNI ABK Oryong Tiba

16 Jenazah WNI yang menjadi korban kapal Oyong tiba di Jakarta
16 Jenazah WNI yang menjadi korban kapal Oyong tiba di Jakarta
16 Jenazah WNI yang menjadi korban kapal Oyong tiba di Jakarta

POJOKSATU – Sebanyak 16 jenazah warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam kecelakaan kapal Oryong 501 di Laut Beiring, Rusia, tiba di Jakarta. Jenazah diterbangkan langsung dari Korea Selatan secara bertahap.

jenazah ini diterima langsung oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi, didampingi Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid, dan Dubes Korea Selatan untuk Indonesia Cho Tae-Young.

Dari 13 jenazah yang diterima, diketahui enam di antaranya merupakan warga Jawa Tengah, tiga dari Jawa Barat, dua warga Maluku, serta masing-masing satu jenazah dari Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.

Dalam sambutannya, Menlu menyampaikan bahwa pengiriman jenazah sengaja dilakukan secara bertahap. Alasannya, proses identifikasi tiga jenazah yang dikirim menyusul masih belum finish. Sehingga memerlukan waktu lebih. Dalam proses identifikasi ini sendiri, Indonesia telah mengirim tim DVI Polri ke Korea Selatan untuk membantu mengidentifikasi jenazah WNI.


“Pemerintah Indonesia telah mengirimkan tiga orang anggota Tim DVI Polri ke Busan, Korea Selatan, untuk secara langsung mendukung proses identifikasi yang dilakukan oleh Tim Forensik National Forensic Service Korea Selatan,” ungkap Menlu di Jakarta, kemarin.

Dalam kesempatan itu, Retno turut menyampaikan apresiasi tinggi atas kerja sama seluruh negara dalam proses evakuasi. Terlebih, bagi pemerintah Korea Selatan dan Rusia atas koordinasi yang sangat baik dalam proses pemulangan jenazah.

Meski telah dilakukan proses pemulangan jenazah, perempuan pencinta hicking itu menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengawal proses selanjutnya. Proses itu dimaksudkan dalam hal pemenuhan hak-hak korban dan proses investigasi.

Untuk hak korban, seperti yang telah disampaikan pihak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) sebelumnya, semua WNI korban kapal Oryong 501 akan mendapatkan asuransi sebesar Rp150 juta serta uang duka sekitar Rp15 juta hingga Rp 20 juta untuk masing-masing korban. Tak hanya itu, pihak Sajo Industries juga berjanji akan memberikan sejumlah uang kompensasi. Nominalnya bervariasi, antara Rp63 juta hingga Rp190 juta.

“Kemenlu terjun langsung agar hak-hak mereka dapat dipenuhi. Pemerintah juga akan terus memantau proses setelah ini,” tegasnya. Hal itu telah dibuktikan oleh Retno dengan melakukan pertemuan dengan pihak perusahaan beberapa waktu lalu di Seoul, Korsel.

Hingga saat ini sendiri, pencarian korban tenggelamnya Kapal Oryong 501 pada Desember 2014 masih terus dilakukan. Dari 35 WNI kita, baru 19 orang yang ditemukan, 16 dalam kondisi meninggal, dan tiga dalam keadaan selamat. Dengan demikian, masih ada 16 WNI yang dinyatakan hilang. Selain ABK dari Indonesia, terdapat pula 11 warga Korsea Selatan, 1 warga Rusia, dan 13 warga Filipina.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) Nusron Wahid mengaku tengah mengevaluasi kondisi penyaluran ABK WNI ke luar negeri. Saat ini, pihaknya berencana untuk mengusulkan penghentian pengiriman ABK warga negara Indonesia (WNI) ke luar negeri. Hal tersebut dikarenakan banyak ABK Indonesia yang tertimpa masalah di luar negeri.

“Kami ingin mengusulkan moratorium ini kepada Presiden Jokowi, Menteri Perhubungan, dan Menteri Kelautan dan Perikanan. Apalagi, beberapa oknum juga diduga menggunakan pelaut Indonesia untuk mengambil sumber daya di perairan Indonesia secara ilegal. Lebih baik pelaut Indonesia melaut di negeri sendiri. Laut kita jauh lebih luas,” terangnya. (mia/bil)