Nabi Palsu Bogor Hijrah ke Aceh

Ahmad Muasdeq
Ahmad Muasdeq
Ahmad Muasdeq

POJOKSATU – Udara dingin serta rimbunnya pepohonan di kawasan Gunung Salak Endah menemani perjalanan menuju tempat persemedian Ahmad Musadeq, si Nabi Palsu asal Pamijahan, Kabupaten Bogor.

Vila itu nampak tidak terawat dan sudah dijual kepada orang lain setelah pemiliknya ditangkap pada 2006 silam. Meski memiliki tujuh vila, Musadeq tak pernah menyewakannya kepada orang lain, tidak seperti vila lain di sekitar Gunung Salak Endah tersebut.

Vila yang memiliki luas sekitar 4.000 meter persegi itu dulu menjadi tempat berkumpulnya Musadeq dengan para pengikutnya. Vila yang nampak asri dengan dipenuhi pepohonan serta tiga kolam renang itu menjadi saksi sang nabi palsu menggelar ritualnya.

Tak hanya vila, sisa peninggalan Musadeq lainnya adalah gubuk di atas tebing terjal yang menjadi tempat persemediannya. Gubuk tersebut kabarnya menjadi tempat Musadeq mendapatkan wahyu sebagai nabi. Setelah tak lagi digunakan, gubuk itu dibakar dan menjadi hutan yang dipenuhi pohon pakis. Sudah tidak ada aktivitas di lokasi itu. Yang ada hanya Gopek, penjaga vila di sekitar gubuk.


Langkah kaki lalu menuju ke tokoh agama setempat. Pria yang tak lagi gagah lantaran faktor usia itu menyambut ramah di rumahnya, Kampung Rebo, Desa Gunungbunder II, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Ia adalah Saipudin atau lebih akrab disapa Ustadz Kuding. Pria berusia 52 tahun ini menjadi salah satu saksi hidup sekaligus pemimpin pergerakan bawah tanah saat wilayahnya heboh dengan nabi palsu. Di bawah bendera Forum Muslimin dan Muslimat (Format), Ustadz Kuding merekrut relawan untuk melawan pria yang lantang mengaku mendapatkan ’wahyu’ dari Tuhan.

Dengan mengenakan peci hitam dan berkain sarung, pikirannya melayang mengenang saat pria tersebut berada di barisan paling depan menentang Ahmad Musadeq, si nabi palsu.

Bahkan, pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoir ini merelakan rumahnya menjadi posko perjuangan. “Saya sampai mendirikan posko perjuangan atas inisiatif sendiri. Saya khawatir umat Islam yang berdatangan dari berbagai wilayah salah sasaran karena banyak sekali vila di sini,” bebernya kepada Metropolitan (Grup Pojoksatu.id).

Bapak empat anak itu awalnya tidak mengetahui keberadaan nabi palsu di wilayah tempat tinggalnya. Ustadz Kuding baru mengetahui keberadaan nabi palsu yang mengaku menjadi utusan Tuhan itu dari media elektronik dan cetak. “Saya sempat kaget, tapi akhirnya kami melawan,” ujar pria yang juga tokoh agama setempat.

Disinggung mengenai perangai Ahmad Musadeq, di mata Kuding, Musadeq merupakan orang yang pandai bersosialisasi dengan warga. Perilakunya sopan, selalu berpeci dan ramah senyum. “Kami warga di sini tidak menyangka, di balik kebaikannya ada ajaran sesat yang dibawanya. Kami kenal Ahmad Musadeq itu dengan nama Abdul Salam,” tegasnya.

Lewat aliran bernama Al Qiyadah Al Islamiyah, Abdul Salam atau Musadeq mengaku sebagai Rasul Allah. “Abdul Salam mungkin nama dirinya. Nah, setelah mengaku mendapatkan wahyu dari Allah dan menjadi Rasul, muncul nama Ahmad Musadeq sebagai nama ’kenabian’ dia,” jelasnya.

Hingga kini, Ustadz Kuding masih menyimpan spanduk yang dibuatnya dalam merekrut relawan. Spanduk yang dibuat dengan tangan itu bertuliskan “Posko Perjuangan Melawan Nabi Palsu, Menerima Relawan Laki – Laki yang Bernyali”. Spanduk yang mulai lusuh itu menjadi bukti berkobarnya semangat perjuangan umat Islam Bogor dalam memerangi aliran sesat.

Lalu ke mana Musadeq saat ini? “Setahu saya sempat ke Aceh mendirikan suatu organisasi yang beranggotakan anak muda, kegiatannya olahraga dan kesenian,” kata Kuding. Ia menduga aktivitas tersebut tak lepas dari ajaran Musadeq seperti di wilayahnya.

Di tempat terpisah, salah satu penggembala domba Ahmad Musadeq, Wawang Wahyudin (46), mengatakan, kala itu ia tidak tahu Musadeq sebagai ketua aliran Alqiyadah Al Islamiyah melainkan hanya sebagai pemilik vila dan H Abdul Salam.

“Tak ada tandatanda aneh ketika ia berada di vila. Bahkan, ia sangat sopan kepada para pegawai, makanya kami tidak curiga,” ujar Wawang kepada Metropolitan, kemarin.

Pria yang mengenakan kaos putih itu mengatakan, tak ada yang aneh dalam keseharian Musadeq. Sehari-hari, Musadeq hanya menggunakan kaos dalam dan celana pendek.

“Dia jarang keluar. Selama dia tinggal di vila, dia tak pernah mengajak warga sekitar atau para pegawainya ikut dalam alirannya,” akunya.

Kecurigaan terjadi saat banyak orang datang ke vilanya setiap Kamis hingga Sabtu. Wawang juga mulai mempertanyakan kegiatan tamunya itu. “Saya pernah bertanya kepada pegawai yang lain, mereka hanya mengatakan itu tamu,” imbuhnya.

Menurut dia, Musadeq mempunyai beberapa pegawai yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Mereka berasal dari Banten, Depok dan Jakarta. Salah satu pegawai Musadeq dari Banten, Adit, selalu menutupi tentang kegiatan yang berada di dalam vila.
“Kalau saya mau masuk selalu dilarang,” ujarnya.

Wawang mengetahui Musadeq sesat saat melihat pemberitaan di TV. Ada orang yang mengukuhkan dirinya sebagai nabi bernama Musadeq, tapi tidak tahu bahwa Musadeq adalah Abu Salam. “Awalnya saya tidak mengenalinya, setelah disebutkan nama lengkapnya Abu Salam saya baru sadar bahwa dia adalah bos saya,” ujarnya.

Selain Wawang, Kepala Desa Gunungsari Hermansyah kaget saat Abu Salam menjadi pimpinan Alqiyadah Al Islamiyah yang dinyatakan sesat oleh MUI. Padahal sebelum menjadi kades, Hermansyah pernah berbisnis dengan Musadeq.

“Saya tidak curiga karena tidak ada yang aneh dalam tampilanya maupun tingkah lakunya, saya kaget ketika Abu Salam masuk TV,” ujar Hermansyah.

Lebih lanjut ia menjelaskan, Abu Salam alias Musadeq memiliki banyak tanah di wilayahnya yang berada di kaki Gunung Salak. Bahkan, ada tujuh vila tapi jarang diisi. Tidak ada warga yang ikut dalam aliran tersebut. Bahkan, warga tidak mengetahui ada aliran sesat yang berkembang di wilayahnya.

“Warga kaget saat tahu ada aliran sesat, bahkan mereka sempat membakar saung kecil yang diduga tempat Musadeq mendapatkan wahyu,” tegasnya.

Seperti diketahui, Musadeq mengaku dirinya mendapat perintah dari Allah untuk menyatakan kerasulannya dan memurnikan ajaran Musa, Isa dan Muhammad atau Din Al- Islam melalui mimpi setelah bertapa selama 40 hari 40 malam di salah satu vilanya di Gunungbunder, Kabupaten Bogor, 23 Juli 2006 silam.

Keberadaan aliran Alqiyadah Al Islamiyah yang diketuai Ahmad Musadeq itu pernah menggemparkan Indonesia. Sebab, keberadaan aliran tersebut mempunyai syahadatnya yang berbeda yakni kata Muhammad dalam kalimat syahadat diganti dengan kata Musadeq. “Ashadu an la ilaha illallah wa ashadu anna musadeq rasulullah”. Dan, kalimat syahadat itulah yang membuat umat muslim resah, sehingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan aliran tersebut sesat. (mam/suf/d/er/py/ps)