Air Mata Titin, Ibu yang Digugat Anaknya Sendiri

tititn3
Titin Suhartini

POJOKSATU – “Akulah yang mengandungnya selama sembilan bulan. Di dalam kandungan, Princess selalu aku jaga. Itu karena ayahnya, HRH Kanjeng Gusti Pangeran Hadipati Moehammad Arief Marthakoesoemah Heroeningrat, kerap menyiksa saya saat mengandung. Badan selalu penuh memar akibat dipukuli. Tapi aku harus melindungi bayi yang ada dalam perutku agar bisa lahir sehat dan melihat dunia. Dan akhirnya, engkau lahir menjadi bayi mungil yang lucu.”

Begitulah sebait cuarahan hati Titin Suhartini yang tak pernah menyangka digugat oleh anak kandungnya sendiri dengan pasal penggelapan. Titin pun terancan menginap di hotel prodeo.

Padahal, masih hangat di ingatan Titin ketika dia menantikan kelahiran putri keduanya Hiss Royal Higness Princees Santang Heroeningrat masih terbayang. Princess adalah darah dagingnya sendiri yang kini menggugatnya dengan pasal penggelapan. Princess tumbuh dari bagian tubuhnya. Masih terbayang pula betapa Princess tumbuh menjadi sosok yang menyayangi keluarganya, termasuk adik-adiknya.

Princess adalah salah satu kebanggaan Titin. Dialah salah satu harapannya, apalagi setelah memutuskan menjadi single parents. Untuk seorang pacar, Princess sangat terbuka. Seperti saat dia jatuh hati pada seorang pria asal Riau. Princess sengaja mengenalkan pada Titin. Memori Titin masih merekam jelas reaksi Princees yang gembira saat dia menyetujui hubungan asmaranya itu. Sang puteri pun kemudian memeluknya hangat sembari membisikan ucapan terima kasih.


Namun kini keadaan sudah terbalik 180 derajat. Tak ada lagi Princess yang sering bermanja-manja itu. Titin kini hanya bisa mengusap dada. Dia sangat sedih melihat kelakuan puterinya yang bergelar sarjana hukum tersebut. Titin sangat terpukul ketika Princess berkali-kali memakinya. Air matanya mengalir deras saat darah dagingnya sendiri malah mengancam akan menjebloskannya ke dalam penjara.

Semuanya memang gara-gara harta. Saat berpisah dengan suaminya, Titin mendapat setengah harta gono-gini dari hasil penjualan rumah pertamanya di Sukasari. Uang tersebut kemudian dia belikan rumah di Perumahan Taman Cibalagung, Blok T, No 2, RT 02/05, Kelurahan Pasirjaya, Kota Bogor. Di rumah tersebut Titin bersama lima anaknya yang lain. Sementara anak sulung tidak ikut karena harus bersama suaminya. Sedangkan Princess memilih tinggal bersama sang ayah.

Tapi ketenangan hati Titin seusai berpisah tak bertahan lama. Itu setelah sang mantan suami dan anak keduanya itu datang untuk mengusirnya. Ternyata si mantan suami dan Princess sudah bersiasat sedari awal. Rumah hasil gono-gini tersebut berakta atas nama Princess.

“Dulu waktu ngurus akta rumah, memang saya percayakan pada Princess. Saya tidak punya perasaan curiga sedikitpun, namanya juga anak sendiri. Tapi sekarang saya menyesal mempercayainya. Bahkan saya menyesal telah melahirkannya,” ujar Titin yang sesaat kemudian tangisnya meledak mengingat perlakuan puterinya tersebut.

Makian dan hinaan sudah sering diterima Titin dari sang puteri. Bahkan pernah suatu hari, Princess mengirimkan pesan singkat yang membuat Titin sakit hati mendalam hingga saat ini. Isinya tak lain berupa hinaan dan ancaman. “Isi SMSnya begini, kamu orang gembel, kapan keluar dari rumah saya, kalo gak segera dikosongkan saya jebloskan ke penjara. Saking sakit hatinya, langsung saya jual HP nya,” kata Titin sambil mengusap dadanya dengan air mata yang terus berlinang.

Kini, Titin sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia perbuat untuk mempertahankan rumah miliknya yang ingin dikuasai puteri dan mantan suaminya itu. Dengan dua lembar kertas yang merupakan sertifikat rumahnya yang lama, Titin dibantu oleh kuasa hukumnya akan terus berjuang di persidangan awal tahun ini. “Saya cuma punya ini, tidak ada lagi. Saya serahkan semuanya pada Allah, saya percaya yang benar akan terungkap,” ungkapnya sambil memperlihatkan kertas kepemilikan rumah lamanya.

Titin kini berhadapan dengan sang anak di Pengadilan Negeri Bogor karena digugat puteri kandungnya yang ingin menguasai harta satu-satunya. Bahkan Princess tega mengusirnya bersama adik-adiknya yang masih kecil.

Titin kini tidak bisa tidur nyenyak. Ia selalu dihantui rasa takut dan khawatir. Ketika tiba-tiba datang calon pembeli rumahnya atau ketika pengadilan menjatuhkan putusan yang menerima gugatan sang buah hati.

“Saya sempat menyesali kenapa mempertahankan dulu saat mengandungnya. Saya jaga agar tetap sehat di dalam kandungan waktu ayahnya mukulin saya. Lebih baik digugurkan saja sekalian kalau akhirnya menjadikan dia durhaka seperti ini,” sesal wanita paruh baya ini.

Namun penyesalan itu dibuangnya jauh-jauh. Titin masih berharap Princess bisa seperti dulu lagi, yang menyayanginya, kakak dan adik-adiknya. “Meskipun kecewa dan sakit hati, saya masih berharap dia bisa sadar akan apa yang telah dilakukan dan kembali menyayangi keluarganya. Bahkan, namanya tak pernah luput disebut dalam setiap doanya,” pungkas Titin.  (**)