ABK Asal Cianjur Disiksa

NURLAN KAMIL
NURLAN KAMIL
NURLAN KAMIL

POJOKSATU – Malang nasib yang dialami Nurlan Kamil alias Ilan (19) TKI yang bekerja di Taiwan. Pria yang bekerja menjadi Anak Buah Kapal (ABK) di Kapal Solar 101 selama enam bulan tidak digaji, bahkan disiksa.
Warga asal Kampung Baros Cigombong RT 02/10 Desa Ciherang Kecamatan Pacet Cianjur ini, sehari-harinya bekerja menangkap ikan untuk diolah menjadi makanan yang diawetkan atau kalengan. Dia bekerja di Taiwan untuk perusahaan milik warga Negara Korea.
“Selama 6 bulan saya tidak diberi gaji. Bahkan setiap hari selama di kapal saya dan ABK lainnya disiksa dan dipukuli, tanpa kenal ampun menggunakan kayu balok, besi, selang, dan benda lainnya yang ada di kapal tersebut,” terang Nurlan kepada Radar Cianjur, kemarin (6/1).
Diakuinya waktu untuk tidur pun hanya dua jam setiap harinya. Padahal semula dijanjikan perusahaan yang merekrut dirinya tidur selama delapan jam. Menurutnya di kapal laut itu ada sekitar 60 pekerja dan 50 diantaranya asal negara Indonesia. Ironisnya mereka juga sama disiksa.
“Selama di Taiwan saya diperlakukan tidak manusiawi. Hingga akhirnya saya diberi cuti oleh majikan, dengan diberi uang 20 dolar yang hanya cukup untuk ongkos saja,” paparnya.
Dirinya mengaku, bisa bekerja di Taiwan itu berawal ketika dirinya bersama dua teman satu kampung Rahman (20) dan Hasan (20), pada Juni 2014 diajak bekerja di Korea. Karena tertarik akhirnya bisa bekerja di Korea, dan dijanjikan akan diberi gaji besar. “Tapi kenyataanya kami malah diberangkatkan ke Taiwan, dengan pekerjaan sebagai ABK,” paparnya.
Selain itu, awalnya bekerja untuk mengadu peruntungan dan memperbaiki perekonomian keluarga. Dia bersama dua orang temannya direkrut LPK Edu – Training, Consulting, dan Reckruiting yang beralamat di Jalan Raya Cisolok KM 07 Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi.
“LPK Edu-Training selaku agen saya nilai calo yang tak bertanggung jawab terhadap TKI yang diberangkatkannya. Pasalnya setelah saya diberikan pengarahan oleh LPK itu tanpa pelatihan saya diharuskan membayar uang pelatihan Rp2 juta,” tuturnya.
Setelah membayar uang pelatihan itu, dirinya dijanjikan akan dapat pekerjaan dengan gaji 300 dolar USD atau sekitar Rp3,3 sampai Rp3,6 juta dengan waktu istirahat delapan jam. Setelah itu dirinya bersama Rahman dan Hasan diberikan arahan dan diberangkatkan ke Taiwan oleh PT Java Merlin di Pemalang Jawa Timur.
“Anehnya, awal dijanjikan berangkat ke Korea, malah diberangkatkan ke Taiwan. Pasalnya setibanya di Pelabuhan Tanjung Priok dirinya malah diperintahkan naik kapal dengan tujuan Taiwan,” tuturnya.
Dirinya juga dengan terpaksa harus menandatangani kontrak kerja. Lantaran, jika kontrak tersebut dibatalkan, maka diancam harus membayar ganti rugi berupa uang sebesar Rp10 juta. “Saya masih trauma atas kejadian ini. Saya kapok dan menuntut ke penyalur, BNP2TKI, dan PT PJTKI agar bisa membayar gajinya yang belum dibayarkan. Apalagi saya dan dua teman saya disiksa, saya hanya ingin keadilan saja,” tegasnya.(fhn)