Gas 12 Kg tak Laku

TAK LAKU : Pemilik agen gas elpiji perlihatkan gas 12 kg yang kini ditinggalkan pembeli akibat naik secara perlahan. foto : farhan
TAK LAKU : Pemilik agen gas elpiji perlihatkan gas 12 kg yang kini ditinggalkan pembeli akibat naik secara perlahan. foto : farhan
TAK LAKU : Pemilik agen gas elpiji perlihatkan gas 12 kg yang kini ditinggalkan pembeli akibat naik secara perlahan. foto : farhan

POJOKSATU-Kenaikan harga liquified petroleum gas (LPG) atau elpiji kemasan tabung 12 kilogram, dikhawatirkan berdampak pada migrasinya konsumen ke gas elpiji 3 kilogram. Terlebih kawasan Cianjur banyak pengguna tabung elpiji 12 kilogram seperti restoran dan hotel.
Petugas Pangkalan Gas di Pasekon Pacet Sutisna menjelaskan, dengan kenaikan harga tabung gas elpiji 12 kilogram dari Rp117.600 menjadi Rp137.500 jelas berimbas besar pada konsumen.
“Bahkan pasokan tabung gas jatah saya sebelumnya 168 tabung sehari, tetapi sekarang hanya 120 tabung. Ironisnya dulu biasanya dalam sehari tabung habis terjual, namun semenjak kenaikan di tanggal 2 Januari lalu, ada sisa 5 atau lebih,” tutur Sutisna, kemarin.
Dijelaskanya, perubahan yang begitu terasa semenjak kenaikan tabung gas epliji 3 kilogram, dikhawatirkan bisa berdampak buruk pada penjualan. Lantaran di daerah Cipanas dan Pacet banyak rumah makan, restoran, vila, dan hotel.
“Biasanya para pengusaha yang bergerak di jasa wisata, harus menggunakan tabung gas 12 kilogram. Namun besar kemungkinan mereka yang keberatan dengan kenaikan harga beralih ke 3 kilogram,” tuturnya.
Kondisi tersebut sangat dikhawatirkannya. Lantaran tabung gas 3 kilogram, khusus diperuntukan bagi warga menengah ke bawah. Sedangkan pengusaha itu merupakan orang mampu.
“Saat ini mulai banyak pengusaha hotel dan restoran yang mengeluh kepada kami terkait kenaikan tabung gas elpiji 12 kilogram. Namun kami tidak bisa berbuat banyak, karena itu kewenangan pemerintah pusat,” ungkapnya.
Dijelaskannya, jika para pengusaha vila, restoran, dan hotel beralih ke tabung gas elpiji 3 kilogram, maka jelas menyalahi aturan. Maka hal ini haru diantisipasi pemerintah dengan baik.
“Jatah kami hanya 370 tabung dalam sehari untuk gas elpiji 3 kilogram. Jika mereka beralih, maka akan berebut dengan warungan kecil dan masyarakat tidak mampu. Tentunya hal ini harus disikapi dengan serius,” imbuhnya.
Terpisah, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Cianjur, Judi Adi Nugroho mengungkapkan, meski diprediksi akan terjadi migrasi penggunaan elpiji 12 kilogram ke elpiji 3 kilogram, pihaknya yakin kuota elpiji bersubsidi pada 2015 tak akan kurang.
Bahkan sebaliknya, akan ada penambahan alokasi elpiji 3 kilogram per bulannya pada 2015 ini. Jumlah tersebut yang tadinya 1,2 juta tabung per bulan pada 2014, maka akan diusulkan 1,5 juta tabung per bulan pada 2015. Harapanya jumlah itu akan mencukupi kebutuhan elpiji di Kabupaten Cianjur.
“Usulan itu disesuaikan dengan laju pertumbuhan penduduk yang naik 2 persen setiap tahunnya. Di samping itu minat masyarakat di Kabupaten Cianjur terhadap elpiji bersubsidi juga meningkat, terutama ketika harga elpiji 12 kilogram menjadi Rp134 ribu,” terangnya.(fhn/ruh)