Terigu Picu Timbulnya Emosi

CARI SOLUSI: Wina Taurin berusaha menghindari kue yang mengandung gluten. Sebab, kegemarannya itu mengacaukan emosi. Foto Dimas Alif/Jawa Pos/JPNN.com
CARI SOLUSI: Wina Taurin berusaha menghindari kue yang mengandung gluten. Sebab, kegemarannya itu mengacaukan emosi. Foto Dimas Alif/Jawa Pos/JPNN.com
CARI SOLUSI: Wina Taurin berusaha menghindari kue yang mengandung gluten. Sebab, kegemarannya itu mengacaukan emosi. Foto Dimas Alif/Jawa Pos/JPNN.com

POJOKSATU – Siapa yang tidak tergoda dengan sajian black forest, tiramisu, atau cheese cake. Manisnya kue dan tekstur yang lembut membuat lidah ingin terus mengecap. Sayang, legitnya kudapan-kudapan berbahan terigu itu justru memacu emosi yang meletup-letup, lantas muncullah cemas. Keadaan tersebut terjadi karena kandungan gluten dalam bahan terigu ditengarai mengganggu kerja sistem saraf di otak.

Kelezatannya memang sulit ditolak. Namun, terigu sebagai bahan utama pembuat beberapa jenis makanan malah memicu ketidakseimbangan emosi. Misalnya, yang dialami Wina Taurin. Sejak beberapa waktu lalu, dia mulai mengurangi porsi makan makanan berbahan terigu.

’’Rasanya jadi nggak enak. Nggak tenang aja,’’ ungkap perempuan 26 tahun itu.

Perasaan tidak enak tersebut, menurut dia, juga kerap memicu rasa cemas dan emosi. Apalagi, Wina menyatakan, keluarganya memiliki riwayat penyakit tertentu. Bahkan, di beberapa kesempatan, kecemasan itu bisa memuncak.


Gluten dan zat pati, menurut Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia Jawa Timur Andrianto, banyak dijumpai pada tepung-tepungan. Misalnya, tepung terigu, gandum, nasi, maupun jagung. Bagi kalangan yang sensitif, makanan yang dimakan tidak sekadar mengganggu pencernaan. Diare, misalnya. Lebih jauh, bahan tersebut bisa memicu beberapa perubahan psikologis. ’’Protein itu biasanya sulit dicerna tubuh,’’ jelasnya.

Protein, lanjut dia, memiliki hasil akhir berupa petida. Petida yang tidak tercerna di saluran cerna bisa berubah arah dan masuk ke peredaran darah. Muatan petida yang terbawa aliran darah akan terus mengalir menuju ke otak. Di sana, bahan tersebut akan menghambat pasokan oksigen. Padahal, salah satu fungsi oksigen di otak mengatur keseimbangan psikologis seseorang.

’’Protein yang tak tercerna itu bisa masuk ke saraf dan mengganggu neurotransmiter,’’ kata ahli gizi RS Mitra Keluarga Waru Vivi Dyah Arisandhi AmdGz. Dampaknya, muncullah kecemasan.

Jadi, Jika perasaan tiba-tiba jadi tidak tenang, cemas, atau malah sakit perut sehabis makan kue, orang tersebut bisa jadi sensitif terhadap gluten. Solusinya, mengganti sumber tepung terigu dengan jenis tepung lain. Bagi yang tidak bisa memasak, tidak perlu ikut cemas. Sebab, beberapa gerai roti sudah menyediakan produk gluten free dengan beraneka varian rasa. (bir/c15/nda)