Jokowi Bohong, Harga Premium Seharunya Cuma Rp5.700

foto: ilustrasi
foto: ilustrasi
Seorang petugas SPBU melayani pembelian premium

POJOKSATU – Pemerintah telah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dari Rp8.500 menjadi Rp7.600 per 1 Januari 2015. Namun, penurunan itu belum memuaskan semua pihak, tak terkecuali Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu.

Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, Arief Poyuono menuding pemerintahan Jokowi-JK bohong besar soal hitungan subsidi BBM di Indonesia. Arif menyebut saat ini masyarakat tidak disubsidi tetapi justru pemerintah mendapatkan keuntungan besar dari penjualan BBM jenis premium.

Arif membeberkan hitungan harga BBM subsidi di Indonesia yang mengikuti mekanisme pasar. Dengan menggunakan dasar perhitungan (MOPS) yang diterapkan oleh pemerintah Jokowi-JK dengan harga sebesar rata-rata Gasoline (BBM) USD 60,203 FOB ditambah pajak pertambahan nilai 10 persen (VAT Local) dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor 5 persen, maka didapat harga BBM sebesar USD 69,23345 per barel.

Menurut Arif, jika ditambahkan dengan biaya penyimpanan dan margin keuntungan sebesar 5 persen equivalen USD 3,46 per barel dari harga BBM yang diimpor maka didapati harga BBM sampai ke konsumen sebesar USD 72,69.


Arif menambahkan, dengan harga USD 72,69 per barel untuk harga BBM sesuai mekanisme pasar maka harga per liter BBM adalah USD 72,69 x Rp 12.500 = Rp 908.668. Maka harga per BBM per liternya sebesar Rp 908668 /159 liter = Rp 5.714 per liter.

“Penetapan premium sebesar Rp 7.600 per liter sesungguhnya masyarakat tidak disubsidi tetapi justru pemerintah mendapatkan keuntungan besar dari penjualan BBM premium dengan selisih keuntungan Rp 1.886 per liter dan ditambah pajak PPN dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor sebesar Rp 707,” tutur Arif. (

“Ini merupakan kebohongan publik yang dilakukan pemerintah dalam menjual BBM kepada masyarakat,” pungkas Arif. (one)