ATC di Indonesia Kuno

Pesawat AirAsia

POJOKSATU – PILOT dalam dan luar negeri ternyata sudah lama mengeluhkan kemampuan radar ATC di Indonesia yang tidak bisa mendeteksi cuaca. Para pilot itu merasa lebih safe terbang di luar negeri karena radar yang lebih canggih.

Hal itu diungkapkan pilot maskapai Garuda Indonesia Abdul Rozaq kemarin (29/12). Rozaq menyatakan lebih memilih me­nerbangkan pesawat ke luar negeri daripada di Indonesia. “Di sini ATC tidak punya radar cuaca. Jadi, kami tidak pernah diarahkan ketika cuaca buruk,” ujarnya.

Rozaq menjelaskan, hal tersebut berbeda dengan di negara lain. Misalnya di Singapura. Menurut dia, beberapa kali dirinya terbang ke Singapura dan tidak menemukan kendala cuaca buruk. Sebab, pihak ATC di sana mengarahkan pilot untuk menghindarinya. “Kadang kalau pilot belum minta belok karena cuaca buruk, pihak ATC sudah menyuruh belok.”


Selain itu, pilot merasa diperhatikan. Rozaq mencontohkan, ketika ada cuaca buruk, pilot akan terus dipandu untuk menemukan jalan keluar. Berbeda halnya dengan di Indonesia. Menurut dia, petugas ATC di Indonesia tidak memberikan perintah yang jelas. “Mereka bilang menyimpang ke kiri. Tapi, perintahnya untuk apa nggak jelas,” cetusnya.

Bahkan, imbuh Rozaq, penerbangan di Indonesia tidak seketat Singapura. Jika di Singapura pesawat menyimpang sedikit saja langsung diperingatkan, di Indonesia hal itu jauh lebih longgar. Kadang diperingatkan, kadang tidak.

Kasus AirAsia bisa menjadi pelajaran bahwa radar cuaca sangat dibutuhkan. Citra satelit BMKG, papar Rozaq, tidak bisa memprediksi cuaca secara akurat 100 persen. Hanya sekitar 70 persen. “Kami sekarang sebelum terbang lihat software aeroweather. Lebih akurat,” jelasnya.

Selain empat fakta yang terungkap setelah rapat di Kemenhub kemarin, ada kepingan fakta lain yang tidak kalah penting. Yaitu, terkait dengan adanya emergency manual yang diwajibkan EASA (badan keselamatan penerbangan Eropa). (aph/ang)