Tanah Retak 1000 Meter, 669 Warga Mengungsi

ilustrasi (Longsor Puncak)
ilustrasi (Longsor Puncak)
ilustrasi

CIANJUR-Sebanyak 669 orang dari 182 kepala keluarga (KK) warga Kampung Cibuntu Desa Cihea Kecamatan Haurwangi, terpaksa mengungsi ke sejumlah tempat yang dinilai aman. Hal ini dilakukan menyusul pergerakan tanah di kawasan tersebut.

Mereka diungsikan ke puskesmas pembantu, bangunan MTs Al Ihwan, Pustu Desa Cihea, SDN Cihea, dan rumah warga yang masih relatif aman serta sejumlah tenda pengungsian.

Hasil pantauan, setidaknya terdapat lebih dari 1000 meter retakan tanah dengan lebar bervariasi antara 50 centimeter hingga 1 meter. Retakan dan pergeseran tanah yang sangat panjang itu terdapat tepat di bawah Gunung Guha Walet yang merupakan bekas lokasi pertambangan batu porslen PT Mandala Marmer Indonesia yang sudah tidak lagi beroperasi sejak sekitar sepuluh tahun lalu.

“Lokasi retakan membentang di atas bukti yang merupakan kebun pisang dan sehari-harinya menjadi tempat beraktifitas warga selama ini,” terang Kapolres Cianjur, AKBP Dedy Kusuma Bakti yang langsung melakukan peninjauan di lokasi.


Selain mengalami pergerakan tanah yang mengakibatkan retakan, Dedy juga menemukan ada sejumlah titik yang sebagain tanah tersebut ambles mulai dari 20 centimeter hingga 1,5 meter. Kondisi tersebut, lanjut Dedy, jika dibiarkan terus-menerus, bukan tidak mungkin akan terjadi pergeseran tanah yang lebih parah lagi.

Perwira Polri asal Malang, Jawa Timur itu menambahkan, berdasarkan diskusi dengan BPBD Kabupaten Cianjur, pergeseran tanah yang terjadi di atas pemukiman warga itu masih berpotensi terus terjadi pergeseran. Apalagi intensitas hujan yang mengguyur Kabupaten Cianjur diperkirakan meningkat pada Janauri 2015 sampai Februari 2015.

“Jadi sebagai antisipasi adanya kemungkinkan berdampak terus menerus akibat cuaca yang tidak menentu. Makanya kami juga telah memasang garis polisi di sejumlah titik agar warga tidak mendekati lokasi pergeseran tanah. Sejumlah garis polisi itu dipasang di titik aman, titik rawan, dan titik paling rawan. Selain itu, kami juga sudah menempatkan sejumlah anggota di lokasi agar warga tidak mendekat ke lokasi pergeseran tanah,” terang Dedy.

Sementara, Kepala Desa Cihea, Supriatna mengatakan, pergeseran tanah sudah terjadi sejak Sabtu menjelang malam. Sebelumnya, warga sempat mendengar suara menggelegar dan sempat terjadi getaran seperti gempa. Selang beberapa saat kemudian, puluhan rumah warga mulai miring karena pergerakan tanah terus terjadi dan meluas.

“Hasil pendataan, di RT 01 ada 58 rumah dengan 60 KK dan 235 jiwa, RT 02 ada 65 rumah dengan 60 KK dan 199 jiwa, sedangkan di RT 03 ada 59 rumah dengan 63 KK dan 235 jiwa,” katanya.

Selain merusak ratusan rumah warga pergerakan tanah juga merusak jalan utama penghubung antar desa yang membentang di wilayah tersebut, sehingga jalan menuju Desa Kemang, yang letaknya bersebalahan dengan Desa Cihea, sulit dilalui kendaraan karena mengalami keretakan.

Selain merusak rumah warga, jembatan utama penghubung antar Kampung Cisalak Cihea Haurwangi, yang baru saja dibangun beberapa bulan lalu itu ambruk diterjang banjir bandang.

Akibatnya, akses menuju Kampung Cisalak, atau sebaliknya, sempat lumpuh karena Jembatan Leuwi Lisung yang menghubungkan wilayah tersebut dengan balai desa dan wilayah lain ambruk dan tidak dapat dilalui sehingga roda perekonomian warga terhenti.

Terpisah, Sekretaris Desa Cihea, Ali Nurdin mengatakan, putusnya jalur penghubung utama dari dan menuju Kampung Cisalak menyebabkan roda perekonomian warga terhenti karena tidak ada akses jalan menuju atau keluar dari kampung tersebut. Pihaknya sendiri mengaku telah melaporkan kejadian tersebut ke kecamatan untuk dilanjutkan ke dinas terkait di Pemkab Cianjur.

“Kami berharap semoga pemkab, provinsi maupun pemerintahan pusat, segera memberikan bantuan perbaikan agar aktifitas warga kembali normal dan roda perekonomian warga kembali berjalan,” pungkasnya.

Di lokasi lain, Jumat (26/12), retakan dan pergeseran tanah juga terjadi. Diantaranya, Kampung Neglasari RT 02/96 Desa Jayagiri. Dalam pantauan Polres Cianjur yang langsung turun ke lokasi, tanah amblas tersebut memiliki lebar antara 5-50 sentimeter dan kedalaman antara 20-60 sentimeter. Akibatnya, sejumlah rumah warga pun terancam amblas dikarenakan panjang retakan dan pergeseran tanah itu memiliki panjang lebih dari 300 meter.

Hal yang sama juga terjadi Desa Mekarsari, Kecamatan Pagelaran, yang mengakibatkan 13 rumah rusak berat dan 134 rumah lainnya terancam. Tidak ada korban jiwa dalam seluruh peristiwa tersebut. Sedangkan warga juga sudah dievakuasi oleh Polres Cianjur ke lokasi yang aman.

Kepala BPBD Kabupaten Cianjur, Asep Suhara mengatakan, sesuai prediksi dan penetapan status siaga pergeseran tanah dan banjir, sejumlah wilayah di Kabupaten Cianjur memang mulai dilanda kedua bencana itu. Menurutnya, warga harus lebih meningkatkan kewaspadaannya menjelang pergantian tahun ini.

“Memang ada beberapa titik yang sudah terjadi pergeseran tanah. Tapi sejauh ini petugas kami sudah terjun ke lapangan untuk melakukan penanganan. Tapi memang penanganan belum maksimal karena ada beberapa kendala karena kejadiannya memang berbarengan dan ada beberapa lokasi yang sudah terkena bencana terlebih dulu,” ujar Asep melalui sambungan telepon.(ruh)