10 Penumpang Air Asia Selamat

Suasana di Bandara Soekarno Hatta
Suasana di Bandara Soekarno Hatta
Suasana di Bandara Soekarno Hatta

POJOKSATU – Sedikitnya 10 penumpang pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ 8501 tujuan Surabaya-Singapura batal terbang karena terlambat tiba di Bandara Juanda, Surabaya. Keterlambatan penumpang asal Kota Kediri itu justru membawa hikmah. Sebab, pesawat yang akan ditumpanginya itu kini hilang kontak dan belum diketahui keberadaannya.

Seorang penumpang AirAsia, Ari Putra Cahyana mengatakan, jadwal keberangkatan pesawat itu adalah pukul 07.00 WIB, namun jadwal tersebut dimajukan. Hal itulah yang membuat dirinya bersama sembilan keluarganya terlambat dan ditinggalkan pesawat.

Kesepuluh keluarga tersebut adalah Ari Putra Cahyana, Anggi, Radian, Putri Sekar Arum, Jodi, Cristianawati (keenamnya calon penumpang dewasa), Daniel, Gideon, Samuel (calon penumpang anak-anak) dan seorang ibu, Ibu Sudibyo.

“Puji Tuhan ini kuasa Tuhan, sebab dengan keterlambatan ini justru menjadikan kami sekeluarga selamat,” kata Ari, Minggu siang (28/112).


Ari yang asli warga Perum Mojoroto Indah F.12 ini menceritakan kronologis gagal berangkat. Sesuai jadwal keberangkatan dari tiket yang ia pesan sebenarnya ia berangkat pada pukul 07.00 WIB. Namun ia tidak jika keberangkatan pesawat dimajukan pada pukul 5.20 WIB.

“Kami tiba dibandara pukul 5.30 dan ternayata pesawat sudah berangkat, saya sempat marah-marah kepada petugas AirAsia yang tidak memberi tahu kami sebelumnya. Namun setelah dijelaskan kami menyadari bahwa saya yang salah. Sebab pihak AirAsia telah menghubungi dari Jakarta dua hari sebelumnya melalui nomer telpon Jakarta (021) dan juga melalui email,” cerita Ari yang berulang kali memuji kepada Tuhan karena
selamat.

Ditambahkan Ari, ia mengaku tidak mengindahkan telepon dari Jakarta dengan kode area (021), sebab menurutnya biasanya nomer (021) Jakarta itu orang yang menawarkan bisnis abal-abal, apalagi nomer tidak ia kenal. “Saya juga tidak sempat membuka email, tapi semua ini tetap ada hikmhanya,” cerita Ari. (one/merdeka)