Tiga Tanggul Lapindo Jebol, Warga Dievakuasi Masal

Lokasi Lumpur Lapindo

Lapindo

POJOKSATU – Nasib mengenaskan, tampaknya, masih harus dirasakan warga Desa Gempolsari, Sidoarjo. Puluhan warga kembali harus mengungsi ke balai desa setelah hujan deras sejak Kamis sore (25/12) menjebol tiga tanggul lumpur Lapindo secara bersamaan. Tidak pelak, seluruh warga RT 10, RW 2, Desa Gempolsari, lagi-lagi terpaksa diungsikan sejak Kamis malam.

Sebenarnya tidak hanya kali ini tiga tanggul itu jebol. Tanggul tersebut juga pernah ambrol saat masih diperbaiki. Tingginya curah hujan kembali merontokkan tanggul lumpur Lapindo itu. Aliran lumpur pun masuk ke rumah warga hingga setinggi 50 sentimeter atau setara lutut orang dewasa.

Sebanyak 21 rumah di RT 10, RW 2, Desa Gempolsari, terendam air bercampur lumpur. ’’Sekitar pukul 22.00, ada mobil pol PP sama mobil polisi datang. Kami langsung disuruh mengungsi,’’ kata Suwadi, warga RT 10, RW 2, Desa Gempolsari.


Rumah kakek 70 tahun itu bahkan sudah dua kali terendam lumpur dalam dua minggu terakhir ini. ’’Setiap banjir, pasti ngungsi ke balai desa,’’ ujar Suwadi.

Sulastri, warga Desa Gempolsari, juga tidak begitu kaget mendapati lumpur masuk rumah. Dia berkali-kali mengalami hal tersebut. Setiap rumahnya terendam lumpur, dia dan keluarga mengungsi. ’’Kalau banjir begini, malamnya ke balai desa. Tetapi, kalau siang, pulang ke rumah. Bersih-bersih,’’ katanya.

Menurut dia, lumpur yang menggenang terlalu lama meninggalkan noda di lantai yang sulit dibersihkan. Selain itu, banyaknya lumpur yang masuk ke rumah dikhawatirkan mengubur tempat tinggal satu-satunya tersebut.

Humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Dwinanto Prasetyo menuturkan, banjir di Desa Gempolsari kali ini dipicu jebolnya tiga tanggul secara bersamaan. Yakni, dua tanggul di titik 73B dan satu tanggul di titik 73A Desa Kedungbendo, Kecamatan Tanggulangin.

Sebenarnya, tanggul 73B jebol 4 meter pada 30 November lalu. Untuk mengatasi, BPLS membangun tanggul baru yang menghubungkan titik 73 dengan titik 67 Desa Gempolsari yang juga jebol. Sembari menunggu tanggul baru selesai, BPLS membuat tanggul sementara dengan sandbag dan sesek(anyaman bambu) untuk menutup jebolan. Sayangnya, setiap hujan deras mengguyur kawasan itu, tanggul selalu jebol.

Puncaknya terjadi Kamis malam. Setelah diguyur hujan selama sejam, tanggul 73B kembali jebol. Bahkan, tanggul di titik 73B sisi timur dan 73A ikut jebol. Dwinanto menyebutkan, tanggul 73B sisi timur jebol 3 meter, sedangkan titik 73A jebol 8 meter.

Dia menyatakan, BPLS sementara belum berniat menutup tanggul yang menganga lebar itu. Sebab, mereka tengah mengevaluasi tanggul-tanggul yang dibangun. ’’Curah hujan di sini masih tinggi. Kalau ditanggul seperti kemarin, dikhawatirkan jebol lagi. Kalau habis ditutup, lalu jebol, volume lumpur yang keluar dari jebolan semakin deras,’’ jelasnya.

Dwinanto menambahkan, BPLS saat ini berupaya membuat saluran untuk mengalihkan aliran lumpur ke Sungai Ketapang. ’’Fokus kami mengupayakan lumpur tidak sampai masuk permukiman,’’ tegasnya. Untuk lumpur yang telanjur menggenangi Desa Gempolsari, BPLS telah mengirimkan satu pompa air dan satu unit ekskavator kemarin.

Sementara itu, hingga tadi malam, lumpur masih menggenangi rumah warga. Meski tidak setinggi sebelumnya, lumpur belum bisa dibersihkan dari dalam rumah. Akibatnya, 99 jiwa dari 24 kepala keluarga di RT 10, RW 2, Desa Gempolsari, harus bertahan di Balai Desa Gempolsari. (rst/c5/end)