Dua WNI Tewas Terseret Banjir di Malaysia

blogger-image--1879007199
Banjir Malaysia

POJOKSATU – Banjir besar melanda lima wiayah di Malaysia. Lima orang dilaporkan tewas dan lebih dari 100 ribu warga dievakuasi dan harus mengungsi. Dua di antara korban meninggal adalah warga negara Indonesia (WNI).

Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi, mengatakan ada dua warga Indonesia yang meninggal akibat terseret banjir. Mantan Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda itu menyampaikan dua warga Indonesia diketahui seorang perempuan berusia 21 tahun dan anaknya yang masih berumur 1 tahun.

“Informasi yang saya peroleh dari KBRI Kuala Lumpur, bencana terjadi pada Rabu, 24 Desember 2014 kemarin. Mereka ditemukan di daerah Cameron Highland,” ujar Retno.

“Jenazah rencananya akan diterbangkan ke Yogyakarta pada Minggu besok,” imbuhnya.


Hingga kini, pemerintah Malaysia masih melakukan evakuasi korban banjir. Perdana Menteri Malaysia Najib Razak menyatakan, perpaduan banjir parah dan cuaca buruk membuat proses relokasi korban dan penyaluran bantuan makanan dengan menggunakan helikopter semakin sulit.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui kantornya, Najib menyebut terus mengikuti perkembangan berita mengenai banjir di Malaysia melalui Dewan Keamanan Nasional dan Komite Penanggulangan Bencana.

“Kedua institusi itu yang selalu memastikan kepada saya bahwa semua warga yang terkena dampak banjir telah tertangani dengan baik,” tutur Najib

Warga yang dievakuasi berada di wialayah Kelantan, Terengganu, Pahang, Perak dan Perlis. Jumlah korban banjir kali ini lebih banyak dibandingkan banjir yang terjadi pada tahun 2008 lalu.

Wilayah Semenanjung Malaysia bagian timur laut merupakan wilayah yang terdampak banjir paling parah. Wilayah ini tergolong sering dilanda banjir saat musim penghujan tiba.

Pada Selasa (23/12) lalu, sebanyak 60 turis asing termasuk dalam 100 orang yang terjebak banjir di sebuah resort ternama di salah satu taman nasional Malaysia. Akhirnya mereka berhasil diselamatkan dengan kapal dan helikopter.

Banjir ini tercatat sebagai yang terburuk di Malaysia sejak tahun 1971 silam. Badan Meteorologi dan Prakiraan Cuaca di Malaysia memprediksi hujan lebat masih akan terus mengguyur Malaysia hingga akhir pekan. Akibat bencana tersebut, beberapa negara bagian dan distrik di Malaysia memutuskan membatalkan rencana mereka untuk menggelar pesta pergantian tahun demi menghormati korban banjir. (one)