Warga tak Sabar Bom Hotel Whiz

ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

POJOKSATU – Warga Taman Kencana, Kelurahan Babakan, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, mendesak agar pengeboman empat lantai Hotel Whiz segera dilakukan. Kalau bisa, pengeboman dilaksanakan saat malam tahun baru. Tak hanya itu, warga juga mengajak Walikota Bogor Bima Arya menonton bareng pengeboman Hotel Whiz yang berbarengan dengan pesta kembang api di malam pergantian tahun baru itu.

Ketua RW 03, Adi Waluyo mengatakan, banyak masukan dari warga yang menginginkan hotel yang berdiri 12 lantai ini segera dibongkar menggunakan bom. Sebab, sambung Adi, keberadaan hotel sudah keluar dari kesepakatan yang disetujui.

“Kita sudah jauh-jauh hari memberi saran kepada pihak hotel, kenapa harus delapan lantai. Tapi mereka ngeyel dan tetap membangun. Hal ini membuat warga gerah,” kata Adi saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Adi menerangkan, sebenarnya warga sudah mewanti-wanti pihak hotel agar mengkaji lebih ulang tentang rencana pembangunan. “Lah kami sudah memberi saran sebelum hotel ini dibangun tapi tidak didengar,” jelas Adi.


Niatan untuk mengadukan Pemkot Bogor ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) pun tak diurungkan warga. “Kalau tidak bisa diselesaikan dengan musyawarah, ya tetap ada clash action dengan cara mengadukan masalah ini ke PTUN,” tambahnya.

Sampai saat ini, belum ada iktikad baik yang dilancarkan Pemkot Bogor. Para pejabat di gedung putih itu lebih senang mengundang pengusaha ketimbang melibatkan warga dalam musyawarah. Perdebatan pun kembali terjadi di tengah isu pengeboman Hotel Whiz. Salah satu pesuruh hotel menghubungi Adi dan mengajak untuk mencari solusi terbaik. Sontak hal ini ditolak pria berkulit sawo matang ini. Adi melihat, ini bukan masalah pribadi, akan tetapi menyangkut keseluruhan warga di RW 03.

“Ajak mereka duduk bersama untuk mencari solusi terbaik. Saya yakin warga saya orang yang beradab dan mengerti aturan,” tegas Adi.

Hal ini ditanggapi serius oleh kuasa hukum warga RW 03, Rivai Zakaria. Menurut Rivai, konsistensi walikota dalam memangkas Hotel Whiz akan dipertaruhkan. “Bima Arya akan jatuh namanya kalau tidak berani memangkas Hotel Whiz. Nanti saya kasih piala ke beliau kalau berani lakukan itu,” kata Rivai.

Rivai merupakan salah satu warga yang rumahnya berdampingan dengan Hotel Whiz. Dirinya menegaskan, apakah ada jaminan untuk menyelamatkan nyawanya jika ada puing-puing yang berjatuhan saat pengerjaan hotel. “Kalau ada yang berani jamin nyawa saya, hebat betul itu,” tegas Rivai.

Karut marutnya permasalahan hotel ini membuat warga gusar dan jengah dengan janji yang diberikan pemkot. Pemerintahan kepemimpinan yang terdahulu dinilai telah cacat karena tidak menjalankan fungsi pelayanan yang seharusnya dijalankan. “Seharusnya undang kami untuk dijelaskan tentang peraturan yang akan diberikan. Jangan kami yang mencari peraturan itu sendiri,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, manajer konstruksi PT Yucca, Agung Nugroho, tak banyak bicara soal perizinan yang dimiliki Hotel Whiz. Namun, dirinya mengaku pemb­angunan sesuai prosedur. “Kita tidak berhak memberikan keterangan apa pun. Perizinan kita mengacu pada IMB. Tidak menyalahi, Hotel Whiz sudah sesuai dengan prosedur,” kata Agung membela hotel tempatnya bekerja yang berada di Kelurahan Babakan, Kecamatan Bogor Tengah, belum lama ini. (ger/c/ram/wan/metropolitan)