CIA Bunuh Kim Kim Jong-un Tayang di YouTube

The Interview
Salah satu adegan film The Intervew yang mulai tayang, Kamis (25/12/2014)

POJOKSATU – Komedi kontroversial The Interview akhirnya bisa ditonton di beberapa bioskop AS dan YouTube, Kamis (25/12/2014)

Sejumlah bioskop telah menayangkan film tersebut pada tengah malam waktu setempat. Film The Interview merupakan komedi fiksi satire, bercerita tentang dua wartawan yang diperankan oleh James Franco dan Seth Rogen. Mereka direkrut oleh CIA untuk membunuh pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un.

Ratusan bioskop independen di Amerika Serikat telah menawarkan untuk menayangkan film tersebut. “Jelas kami ingin mendapatkan uang dari film, seperti yang kami lakukan pada film lain. Penting bagi kami untuk mengambil sikap tentang kebebasan, kebebasan berbicara, dan kebebasan untuk menonton film,” Manajer Cinema Village di New York, Lee Peterson.

Film ini sedang ditawarkan melalui situs YouTube and Play, dan platform Microsoft Xbox Video, tetapi untuk sementara hanya bisa diakses di Amerika Serikat.


Sony Pictures awalnya menarik film setelah mendapat ancaman serangan hacker dari kelompok yang menamakan dirinya Penjaga Perdamaian.

Pekan lalu, Federal Bureau of Investigation (FBI) mengatakan hasil analisis menunjukkan jaringan hacker itu berada di Korea Utara. Namun, banyak ahli cybersecurity yang membantah pernyataan itu.

Korea Utara juga membantah berada di balik serangan itu, namun mereka menganggap serangan tersebut merupakan perbuatan yang benar.

Para hacker mengancam akan melakukan serangan di bioskop yang menayangkan film tersebut pada Hari Natal. Ancaman itu sempat membuat Sony takut menayangkan film kontroversi itu.
Setelah mendapat intervensi dari Presiden AS Barack Obama, akhirnya Sony mengalah dan bersedia menayangkan film ini.

Bos Sony, Michael Lynton mengatakan, distribusi digital sekarang dipilih untuk menayangkan The Interview. “Itu penting bagi studio kami untuk merilis film ini, terutama mengingat serangan pada bisnis kami dan karyawan kami dengan orang-orang yang ingin menghentikan kebebasan berbicara,” ujarnya.

“Kami memilih jalur distribusi digital pertama untuk menjangkau sebanyak mungkin orang pada hari pembukaan, dan kami terus mencari mitra lain dan platform untuk memperluas rilis,” tambahnya. (one/bbc)