Jokowi Rayakan Natal di Tengah Konflik

Jokowi
Jokowi
Jokowi

POJOKSATU – Presiden Joko Widodo direncanakan merayakan Natal 2014 bersama warga Papua di tengah suasana konflik sejak dua pekan lalu. Kepolisian Daerah Papua hingga Rabu (24/12/2014) melakukan pengamanan ekstra ketat.

Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Yotje Mende, mengatakan pengamanan sudah diperkuat dengan sejumlah simulasi gelar pasukan bersama aparat gabungan untuk pengamanan acara Natal Nasional 2014 yang akan dihadiri Joko Widodo (Jokowi).

Meski begitu, Yotje hingga saat ini belum menentukan titik rawan yang perlu diwaspadai dalam kunjungan Presiden Jokowi ke Papua besok, Kamis (25/12/2014). Yotje juga meminta maaf kepada masyarakat Papua jika ada tindakan pengamanan yang dirasa berlebihan saat kunjungan Jokowi. “Saya harapkan semua pihak dapat bersinergi menjaga keamanan dan ketertiban dalam kunjungan Jokowi ke Papua,” katanya.

Sekretaris Daerah Papua Heri Dosinaen mengatakan selain Jokowi dan anggota kabinetnya, 400 ribu undangan akan hadir dalam perayaan Natal Nasional 2014 di Stadion Mandala Jayapura. Setelah acara Natal pada 26 Desember 2014, Jokowi akan mengunjungi tiga kota di Papua dan Papua Barat.


Sementara itu, Pakar Etika Politik dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis Suseno menilai, kunjungan Jokowi untuk merayakan Natal di Provinsi Papua tidak bermanfaat bagi warga di daerah itu. Franz menilai, mayoritas warga Papua tidak membutuhkan kehadiran Jokowi di hari Natal.

Jokowi, kata Franz, lebih dibutuhkan masyarakat Papua untuk menyudahi konflik kekerasan yang kerap terjadi di daerah itu. “Menghadiri perayan Natal tidak bermanfaat kalau Jokowi tidak mau mengambil sikap atas pembunuhan yang terjadi di Paniai,” kata Franz di Jakarta.

Menurut Franz, konflik di Paniai yang menewaskan lima orang dan membuat puluhan lainnya luka-luka itu, menandakan Papua belum dalam keadaan aman. Meski pemerintah Indonesia telah berganti, namun keadaan di Papua, menurut dia, masih belum juga berubah.

“Dengan Jokowi hanya ikut merayakan Natal di sana, kondisi ini tidak akan berubah,” ujar Franz Magnis.

Franz meminta agar pemerintahan Jokowi mengambil tindakan antisipasi sehingga konflik seperti ini tidak kembali terulang. Salah satu yang harus dilakukan, kata Franz, adalah penelitian ilmiah untuk mengetahui penyebab konflik yang kerap terjadi di Papua. (sud)