Prediksi Wagub, 10 Tahun Lagi Jakarta Tenggelam

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat
10400_8716_Djarot-Syaiful-Hidayat-Cawa
Djarot Saiful Hidayat

POJOKSATU – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat memprediksi kalau Ibu Kota akan tenggelam dalam 10 hingga 15 tahun mendatang.

Itu terjadi jika kondisi yang ada saat ini, seperti pendangkalan sungai, buang sampah sembarangan hingga maraknya bangunan liar di daerah aliran sungai yang berdampak banjir dibiarkan tanpa penanganan serius.

”Dampak dari perilaku kita sendiri menjadi salah satu penyebab banjir. Karena itu mulai dari sekarang harus sadar terhadap perilaku kita. Kalau tidak mulai dari sekarang, saya khawatir 10-15 tahun lagi Jakarta tenggelam,” ujarnya saat meninjau titik rawan banjir di bantaran Kali Ciliwung di wilayah Kelurahan Bidara Cina, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, kemarin (21/12).

Dia tidak hanya menyalahkan perilaku masyarakat yang bakal membuat Jakarta bakal tenggelam 10-15 tahun mendatang tapi juga aparatur pemerintah daerah DKI Jakarta yang tidak sigap.


Karena itu, menurut Djarot lagi, kesadaran dan kedisiplinan warga sangat penting. Salah satu contohnya, kesadaran warga agar tidak buang sampah sembarangan.

”Juga diperlukan kesadaran warga untuk tidak tinggal di bantaran kali yang menyumbat saluran air,” terangnya.

Mantan Wali Kota Blitar itu saat mengunjungi Kelurahan Bidara Cina didampingi Camat Jatinegara.

Dari Kelurahan Bidara Cina, Djarot lantas naik perahu karet menyusuri Sungai Ciliwung ke Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara.

Mengenakan kaos merah, sebelum naik perahu, Djarot sempat meminta pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur agar proses normalisasi di pinggiran bantaran Kali Ciliwung yang ada di sekitar area Kelurahan Bidara Cina segera dikebut.

”Itu tolong ikut dipantau ya pak. Kerjakan itu, jangan sampai terbengkalai,” cetus Djarot kepada Camat Jatinegara.

Sampai di Kampung Pulo, Djarot langsung mengecek kondisi daerah langganan banjir itu. Area pertama yang dikunjungi adalah RT 04/03 yang jadi daerah banjir setiap kali Sungai Ciliwung meluap. Dia menyempatkan berbincang dengan warga. ”Masih betah tinggal di sini bu?,” tanya Djarot kepada seorang ibu warga setempat.

”Masih pak, cuma kasihan anak-anak ini banjir. Bagaimana nih pak solusinya?” jawab salah seorang ibu yang tinggal di Kampung Pulo.

”Ya sudah makanya kita relokasi. Nanti kita pindahin dulu ya ke rusun,” kata Djarot juga. Di hadapan warga, Djarot mempertanyakan kenapa mereka masih betah tinggal di tempat tersebut.

”Saat ini Pemprov DKI sedang membangun rusun atau rumah susun. Nanti kalau sudah jadi yang masih tinggal di sini (kawasan banjir, Red) pindah ke sana saja, biar enggak lagi kebanjiran,” terangnya juga.

Dari hasil blusukannya tersebut, politisi PDIP itu juga menilai, di beberapa titik daerah rawan banjir yang dilintasi Sungai Ciliwung sangat mendesak dinormalisasi. Dia pun berpendapat, tidak selamanya warga harus tinggal di bantaran kali dan mengalami banjir terus menerus.

Karenanya, dia pun mengimbau warga yang bermukim di tepi Sungai Ciliwung mau direlokasi ke rumah susun sewa sederhana (rusunawa). ”Saya harap tidak selamanya warga harus tinggal di bantaran kali dan mengalami banjir terus menerus. Untuk itu kita akan relokasi ke rusunawa,” tegasnya juga.

Menurut dia lagi, pengerjaan normalisasi kali dan proyek rumah susun akan dikebut oleh Pemprov DKI DKI pada 2015 mendatang dengan menambah jumlah pekerja.

”Semua pekerjaan terkait dengan rusunawa dan normalisasi Kali Ciliwung kita harapkan selesai tahun depan,” janjinya.

Lebih jauh, kata Djarot lagi, nantinya rusunawa yang dibangun Pemprov DKI akan diprioritaskan bagi para lansia dan anak-anak. Untuk itu, dirinya meminta lurah dan camat segera mendata warga yang bermukim di bantaran kali.

”Saya minta dilakukan pendataan oleh lurah dan camat terutama para lansia dan anak-anak yang akan tinggal di rusun,” cetusnya juga.

Sementara itu, anggota DPRD DKI Jakarta, William Yani menilai langkah Wagub Djarot mendekati masyarakat untuk mau diajak bekerjasama menyelesaikan masalah banjir sudah tepat.

Menurutnya, warga memang seharusnya diajak berdialog, agar mengerti pentingnya meninggalkan tempat tinggalnya yang sekarang ini.

”Sebab, itu demi kebaikan bersama dan penuntasan masalah banjir. Warga juga dipindahkan ke rusunawa,” terangnya.

Anggota dewan yang akrab disapa Willi itu juga mengatakan, Pemprov DKI Jakarta agar serius menyelesaikan pembangunan rumah susun yang dijanjikan untuk warga korban banjir.

Karena, akan percuma mengajak warga pindah dari bantaran kali, jika lokasi rusunawa yang dijanjikan belum ada.

”Jadi kuncinya ada di kedua belah pihak, yakni warga dan pemerintah daerah. Kalau mau bekerjasama saya yakin bisa mengentaskan banjir di Ibu Kota ini,” cetus juga politisi PDIP tersebut. (wok)

65 Wilayah Rawan Banjir DKI

Jakarta Timur
1.    Kampung Pulo
2.    Kebon Nanas
3.    Bidara Cina
4.    Cipinang Indah
5.    Malaka Selatan
6.    Halim Perdana Kusumah
7.    Kramat Jati
8.    Kampung Rambutan
9.    Depan Pasar Cibubur.

Jakarta Pusat
1.    Kali Pasir
2.    Bundaran Hotel Indonesia (HI)
3.    Pejompongan AL
4.    Jati Pinggir
5.    Mangga Dua
6.    Kartini
7.    Serdang
8 .    Gunung Sahari
9.    Cempaka Putih.

Jakarta Selatan
1.    Kawasan IKPN
2.    Pondok Pinang
3.    Cireundeu Permai
4.    Kebalen (Mampang Prapatan)
5.    Petogogan
6.    Po ndok Karya
7.    Darma Jaya
8.    Pulo Raya
9.    Bukit Duri (Kebon Baru)
10.    Pengadegan
11.    Cipulir (Ciledug Raya).

Wilayah Jakarta Barat
1.    Rawa Buaya
2.    Duri Kosambi
3.    Tegal Alur
4.    Kapuk Kedaung Poglar
5.    Kapuk
6.    Kembangan
7.    Meruya/Pengampuan (Meruya Indah)
8.    Pesing (Green Garden)
9.    Krendang
10.    Jela mbar Baru
11.    Pinangsia
12.    Mangg a Besar
13.    Tanjung Duren Raya
14.    Grogol
15.    Sukabumi Utara
16.    Kelapa Dua
17.    Duri Kepa.

Jakarta Utara
1.    Kapuk Kamal (Kampung Baru)
2.    Pantai Indah Kapuk
3.    Kampung Gusti (Teluk Gong/Jelambar Fajar)
4.    Muara Angke (Pluit)
5.    Pademangan Barat
6.    Pademangan Timur
7.    Sunter Agung
8.    Sunter Jaya
9.    Lagoa Buntu
10.    Kebon Bawang
11.    Warakas
12.    Sunga i Bambu
13.    Papanggo
14.    Pegan gsaan Dua
15.    Kelapa Gading Timur
16.    Rawa Badak Utara dan Rawa Badak Selatan
(Tugu Selatan, Lagoa)
17.    Semper Barat
18.    Dewa Kembar
19.    Rorotan/Babek ABRI