Bawa Sabit, Jogoboyo Bubarkan Pengajian di Pesantren

ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

POJOKSATU – Sangat tidak patut dijadikan panutan. Itu layak disematkan pada Basuki Mukarom, kepala urusan (Kaur) umum alias jogoboyo Desa Tulung, Kecamatan Saradan.

Dalam keadaan mabuk karena menenggak minuman keras (miras), Basuki membubarkan acara pengajian di Pondok Pesantren (Ponpes) Roudlotun Ni’mah, Dusun Gaplok, desa setempat. Dia juga menenteng sabit saat membubarkan kegiatan keagamaan tersebut.

Karena merasa dilecehkan, pimpinan ponpes Kiai Agus Suyanto dan ketua badan permusyawarahan desa (BPD) setempat melapor ke Mapolsek Saradan, kemarin (19/12). ”Sambil membawa sabit, perangkat desa itu melabrak pimpinan ponpes saat pengajian,” ungkap Kasatreskrim Polres Madiun AKP Mukhamad Lutfi.

Insiden tersebut terjadi Kamis (11/12) sekitar pukul 20.30. Berdasar keterangan pimpinan ponpes, Basuki tidak terima dengan aktivitas berjanjen (salawatan) yang menggunakan pengeras suara.


Dia meminta Kiai Agus mengecilkan volume pengeras suara. ”Pelaku protes suara pengajian terlalu keras. Dia minta volume speaker dikecilkan atau tidak pakai sekalian,” jelasnya.

Sempat terjadi adu argumentasi. Basuki yang berada di bawah pengaruh alkohol terus memaki dan melontarkan kata-kata kasar. Dia juga mengeluarkan sabitnya.

Untungnya, Sri Rahayu, istri Kiai Agus, melerai percekcokan itu sehingga tidak terjadi bentrokan fisik. ”Setelah dilerai, Basuki langsung pulang ke rumahnya,” terang Lutfi. Sementara itu, sekitar 25 santri yang mengikuti pengajian langsung bubar. (mg4/tyo/sat/JPNN/c23/bh)