Anak Jerat Ibu dengan Pasal Penggelapan

Mahasiswa dianiaya senior
ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

POJOKSATU-Sengketa hukum antara ibu dan anak di Pengadilan Negeri Bogor terus berlanjut. Sang anak, Hiss Royal Higness Princees Santang Heroeningrat (25), tetap berhasrat mengusir dan memenjarakan sang ibu, Titin Suhartini (48) melalui kompilasi hukum dengan salah satu pasal penggelapan 372 KUHP.

Sejatinya sang ibu sempat meminta permasalahan ini diselesaikan secara kekeluargaan. Namun sengketa ini justru berlanjut ke ranah hukum. Di persidangan kemarin, Princes tetap mendesak ibu kandung dan lima orang adiknya segera keluar dari rumah yang mereka diami, di Perumahan Taman Cibalagung, Blok T, No 2, RT 02/05, Kelurahan Pasirjaya, Kota Bogor.

“Ini sidang keempat kami, saya berharap ada keadilan dalam persidangan ini,” ujar Titin kepada Radar Bogor (Grup pojoksatu.id) kemarin.

Ihwal sengketa ini berawal ketika mantan suaminya HRH Kanjeng Gusti Pangeran Hadipati Moehammad Arief Marthakoesoemah Heroeningrat, meminta untuk menjual rumah mereka di Sukasari III, No 26, RT03/01, Kelurahan Sukasari.


Rumah di Sukasari merupakan harta bersama antara Titin dan suaminya, sebelum memutuskan untuk dijual pada medio 2000-an. Dalam kesepakatan bersama, uang hasil penjualan rumah di Sukasari di bagi dua. Titin memilih membeli rumah di Cibalagung.

HRH Kanjeng Gusti Pangeran Hadipati Moehammad Arief Marthakoesoemah Heroeningrat juga demikian. Saat itu Arief mengaku membeli rumah untuk didiami istri kedua dan Princees yang memilih tinggal bersamanya.

Tapi realitanya tidak demikian. Sertifikat rumah yang didiami Titin bersama lima orang anaknya ternyata atas nama HRH Princes Santang Heroeningrat. Sedangkan Arief juga tidak pernah membeli rumah untuk dihuni bersama istri dan Princees.

“Jadi dari awal mantan suami saya sudah membohongi saya dan anak-anak. Setelah uangnya habis dan saya memutuskan cerai tiga bulan lalu, dia tiba-tiba mempermasalahkan status rumah tersebut,” jelas Titin seusai sidang.

Pantauan Radar Bogor di di persidangan kemarin, Titin bersama lima anaknya tampak tegar ketika berhadapan dengan mantan kepala keluarganya. Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Ketua Paul Marpaung itu sendiri beragendakan pemeriksaan barang bukti.

Setelah berkas barang bukti diserahkan, hanya berselang 10, hakim kemudian menilai memutuskan untuk melanjutkan persidangan pekan depan dengan agenda yang sama. Namun kali ini Titin yang balik menyerahkan buktinya. “Sidang lanjutan akan kita lakukan kembali pada 7 Januari 2015. Tergugat kami beri kesempatan untuk menyerahkan buktinya,” tutur hakim dan mengakhiri sidang.

Titin mengaku hanya akan melampirkan bukti sertifikat dan surat-surat rumah mereka yang ada di Sukasari untuk menghadapi sidang lanjutan.

Sementara itu, anak kedua Titin, Hiss Royal Higness Princees Santang Heroeningrat mengelak semua tudingan sang ibu. Princees beralasan, dia bukan pihak yang menggugat ibunya. Hanya saja dia diberi kuasa insedentil oleh sang ayah.

Dalam perkara ini, Princees merasa bahwa dirinya dan sang ayah lah dirugikan Titin. Itu karena Titin tidak mengizinkan keduanya masuk ke rumah. Padahal sejatinya rumah itu adalah haknya. “Jadi harus saya luruskan, kasus ini adalah kasus antara mantan suami dan istri, bukan karena anak kandung dan ibu,” elaknya.

Princees menilai ayahnya tidak bisa menempati rumah, karena ibu mengklaim bahwa itu rumahnya. Jika nanti kasus dimenangkan olehnya, maka Princees tak segan-segan mengusir ibu kandung dan lima adik-adiknya dari rumah. “Ya kalau dalam persidangan memutuskan kami benar, akan kami eksekusi,” jawabnya lantang.

Saat ditanya apakah dia tidak tega melihat sang ibu dan saudara-saudari kandungnya harus diusir ? Dengan tegas Princees menyatakan itu sudah merupakan resiko. “Kalau dibilang tega, mau bagaimana, nyatanya saya dan ayah saya yang justru sebagai korban. Karena ibu yang mengusir kami,” bebernya.

Pernyataan Princees mendapat bantahan keras oleh kedua adik perempuannya, HRH Princess Maharani Heroeningrat dan HRH Princess Faradibah.“Kakak (Princees,red) sering kali membentak ibu, bahkan ibu dikata-katain anjing lah, bukan ibunya. Bahkan kami pun diusir oleh dia,” jelas Maharani-sapaan-HRH Princess Maharani Heroeningrat.(ind/c)