Anak Usir dan Penjarakan Ibu

Mahasiswa dianiaya senior
ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

POJOKSATU – Titin Suhartini (48) hanya bisa mengelus dada saat anak dan mantan suami menggugat dirinya. Dia harus keluar dari rumahnya di Perumahan Taman Cibalagung, Blok T, No 2, RT 02/05, Kelurahan Pasirjaya, Kota Bogor. Kalau tidak, si anak bakal memenjarakan Titin.

Kisah pilu janda beranak tujuh ini bermula ketika sang suami menceraikannya pada medio 2013. “Alasan kami bercerai karena sudah tak harmonis, suami saya juga sudah mempunyai istri lagi,” ujar Titin kepada Radar Bogor.

Setelah bercerai, hak asuh anak-anak dimenangkan oleh Titin. Dan, tentu sang suami, Hiss Royal Highness Prince Kanjeng Gusti Pangeran Hadipati Moehammad Arief Marthakoesoemah Heroe­ningrat, berkewajiban untuk memberikan kompensasi uang bulanan. Namun, kata Titin, kewajiban itu tidak disanggupi si mantan suami.

Dari tujuh anak Titin, dua anak di antaranya memutuskan tinggal sendiri-sendiri. Yakni anak pertama yang sudah berkeluarga dan anak kedua, Hiss Royal Higness Princess Gusti Santang Heroeningat, memilih tinggal dengan sang ayah. Anak kedua inilah yang menggugat Titin.


Sejatinya, gugatan ini dilayangkan mantan suami Titin. Selama persidangan berlangsung, Moehammad Arief Marthakoesoemah memberikan kuasa kepada anaknya. Dalam gugatannya, Titin dituduh menggelapkan sertifikat rumahnya. Dan jika itu tidak dituruti, Titin terancam hukuman tiga bulan penjara.

“Kenapa tidak diselesaikan secara kekeluargaan saja. Kan, saya ibu kandungnya. Saya yang melahirkan,” katanya sambil berurai air mata. Sejak sengketa tanah meruncing pada Oktober 2014 lalu, kesehatan Titin terus menurun. Dadanya sempat sakit selama beberapa hari dan berat tubuhnya terus menyusut. Titin mengaku stres dan syok karena gugatan mantan suami dan anaknya itu.

“Saya sudah lelah, setiap hari ada yang datang menanyakan rumah. Karena ternyata si anak itu telah menjual rumah ini secara online dengan mem-posting-nya di situs belanja barang bekas,” ucapnya.

Terpisah, Humas Pengadilan Negeri Bogor, Paul Marpaung menyatakan kasus ini telah melalui beberapa persidangan. Awal berkas kasus dilimpahkan pada medio 24 Oktober 2014 dan sidang perdananya dimulai pada 5 November 2014. “Jadi, perkaranya perebutan rumah,” ucap Paul.

Dalam gugatan itu dijelaskan, penggugat meminta agar tergugat mengosongkan rumah yang terletak di perumahan Taman Cibalagung, Blok T, No 2, RT 02/05, Kelurahan Pasirjaya, Kecamatan Bogor Barat.

Rumah tersebut bersertifikat hak milik No 456 seluas 200 m2. Selain itu, penggugat juga meminta agar tergugat mengembalikan kepada penggugat sebagai pemilik sah dalam keadaan baik. Pun dalam pokok perkara, penggugat menghukum tergugat untuk mengosongkan rumah, dengan alasan, penggugat tidak dapat menikmati apa yang menjadi haknya. “Memang, sertifikat rumah itu bukanlah atas nama tergugat,” kata Paul. (ind/azi/c)