Motor Dilarang Melintas, Pemotor Jakarta Pilih Jalur Alternatif Ini

143045_428973_motor_jpnn

Besok, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI bakal melakukan uji coba pelarangan motor melintas di sepanjang Jalan Medan Merdeka Barat-MH Thamrin, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Meski Pemprov telah menyediakan bus gratis, kebanyakan pengendara motor (bikers) justru lebih memilih jalur alternatif.

Ketersediaan bus gratis bagi para bikers yang tidak boleh melintas dinilai Arfan, salah satu bi­ker sebagai hal yang tidak efek­tif. Kebanyakan dari mereka me­milih jalur alternatif daripada naik bus.

Repot, belum lagi mi­kir mau parkir di mana. Harga parkir juga pasti mahal. Tidak efi­si­en. Po­koknya selama masih ada jalur alternatif, sa­ya akan memi­lih lewat situ saja,” protesnya.


Apalagi, sambung Arfan, diri­nya sudah terbiasa menggu­nakan motor menuju kantornya di kawasan MH Thamrin. Rumah­nya di kawasan Depok, Jawa Barat, bikin dia repot jika harus parkir di tempat lain demi naik bus gratis yang disediakan Pemprov. Ia pun merasa tak khawatir, jika penumpukan justru terjadi di jalur alternatif.

Andi, seorang karyawan yang bekerja di Kawasan Sudirman juga mengatakan, selama ini justru lebih cepat dan aman jika lewat daerah Pejompongan, menuju kantornya di daerah Dukuh Atas, Jakarta Pusat.

Sebenarnya pernah juga le­wat MH Thamrin kalau mau ke kantor, tapi jarang. Saya lebih senang lewat jalur alternatif. Kalau dibilang lebih macet mana, ya pasti lebih macet kalau lewat Thamrin. Karena kebanyakan yang lewat kawasan situ kan sebenarnya mobil, bukan motor,” ketus Andi.

Saat ini, memang sudah terlihat beberapa rambu-rambu larangan sepeda motor terpasang di bebe­rapa titik di sekitar Jalan MH Tham­rin dan Jalan Medan Mer­deka Barat. Antara lain di kawa­san Harmoni dan di ujung Jalan Medan Merdeka Barat yang berbatasan dengan Jalan Medan Mer­deka Utara. Rambu-rambu itu ada yang berupa gambar se­peda motor yang dicoret, serta tulisan ‘Ka­was­an Pembatasan Lalulintas Sepeda Motor (Jalan MH Thamrin dan Ja­lan Medan Merdeka Barat).

Kekhawatiran adanya penumpukan kendaraan di jalur alter­natif pun ditanggapi wajar oleh Wakil Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Bak­ha­ruddin Muhammad Syah.

Dikatakan, tujuan pemberlakuan aturan pelarangan ini bukan memindahkan ke­ma­cetan, tapi mengajak pemilik kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

Kan ini memang baru roda dua, kalau memang berhasil dan dimungkinkan, pasti aturan ini juga akan diperluas. Bisa saja roda empat juga. Untuk mengan­tisipasi kepadatan kendaraan, jumlah petugas kepolisian yang dikerah­kan akan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi,” terangnya.

Polda Metro Jaya sendiri, memang telah menyiapkan beberapa jalur alternatif untuk mengan­tisipasi penerapan larangan sepeda motor melintas mulai Bun­daran HI (Jalan MH Thamrin) hingga Jalan Medan Merdeka Barat. Jika masih ada pengguna motor yang melintas, Ditlantas Polda Metro Jaya menempatkan sejumlah personel untuk berjaga di Bundaran HI hingga Jalan Medan Merdeka Barat dan petugas nanti akan mengarahkan pemotor ke jalur alternatif.

Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional (Dalops) Dinas Perhubungan (Dishub) Syafrin Liputo menyebutkan, menyiap­kan tiga langkah jelang larangan sepeda motor. Pertama, me­nye­diakan sumber daya manusia (SDM) dari petugas Dalops Dishub sebanyak 56 orang setiap­shift. Dalam sehari ada tiga shift. Artinya ada 168 personel di luar jajaran polisi. Petugas Dalops Dis­hub ini tersebar di 10 titik.

Dari dekat Bundaran HI me­ngarah ke Jalan MH Thamrin, Jalan Sunda (samping Sarinah), Jalan Wahid Hasyim (samping Sa­rinah), dan persimpangan Jalan Ke­bon Sirih (dekat Wisma Man­diri). Kemudian persimpangan air mancur Budi Kemuliaan (se­belah BI), Jalan Budi Kemuliaan 3, Jalan Museum, persimpangan Istana (pertemuan antara Jalan Medan Merdeka Barat dan Me­dan Merdeka Utara), Jalan Vete­ran di belakang kantor Sekretariat Negara (Setneg), dan Simpang Harmoni (ujung Jalan Hayam Wuruk mengarah Jalan Juanda).

”Bagi pengendara dari Jalan Veteran yang mau berbelok ke Jalan Majapahit diarahkan ke Jalan Suryopranoto, begitu juga yang di depan Istana diarahkan ke jalan Abdul Muis,” terang Syafrin.

Dishub juga menyiapkan rambu peringatan dan larangan di 10 titik tersebut. Bagi pengendara yang melintas ke arah Jalan MH Thamrin atau Medan Merdeka Barat akan diberi tahu, mereka dilarang berbelok ke jalan protokol tersebut, kecuali menyeberang.

Seperti dari arah Jalan Kebon Sirih sisi BI ke Kebon Sirih sisi Wisma Mandiri. Penempatan petugas di 10 titik itu sebagai lang­kah antisipasi agar warga tidak masuk ke koridor larangan bagi sepeda motor.

”Selama war­ga mengikuti arah­an petugas, mereka tidak akan di­tindak. Ha­nya diberikan peringat­an. Kalau tetap nekat menerobos jalan lara­ngan, aparat ke­po­lisian bisa menindak,” tegasnya. (ips)