Kisah Maestro Biola; Rambah Singapura, Australi, Belanda dan Italia (5)

Mustofa menunjukkan biola buatannya. Foto Guruh/pojoksatu.id
Mustofa menunjukkan biola buatannya. Foto Guruh/pojoksatu.id
Mustofa memainkan musik biola buatannya. Foto Guruh/pojoksatu.id

Meski belajar secara otodidak, karya Mustofa tak kalah bersaing dengan buatan Eropa. Ratusan buah tangannya habis dipesan oleh konsumen di berbagai kota, terutama di Pulau Jawa. Masterpiece Dewa Biola itu pun bahkan sudah melanglang ke berbagai negara.

LAPORAN: GURUH PERMADI

Atas karyanya yang cukup berkualitas, tidak berlebihan jika akhirnya Mustofa dijuliki sebagai Dewa Biola. Dalam sehari, ia bisa membuat lima buah biola yang sudah siap untuk dimainkan. Tapi, lima biola itu belum sepenuhnya selesai atau bisa dikatakan baru setengah jadi.
“Tapi, biar masih setengah jadi, suaranya boleh kalau diadu kok dengan biola lain. Saya jamin, biola buatan saya tidak akan bisa dikalahkan,” kata Mustofa.

Terbukti, pemesanan biola pun terus berdatangan. Bukan hanya untuk wilayah Bogor. Tapi juga ke Bandung, Bekasi, Depok, Tangerang, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bali dan luar pulau lainnya.
Bahkan, biola buatan Mustofa itu pun sudah menginjak hingga ke negeri seberang. Seperti, Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Jepang, Cina, Australia, Belanda hingga ke negeri pizza Italia.


Namun, pembeli dari luar negeri itu bukan datang memesan kepadanya. Tapi membelinya langsung melalui pemeran produk kreatifitas yang sudah sering ia ikuti. “Bule itu yang datang dan mencoba sendiri biola saya. Setelah dicoba, mereka langsung membayarnya. Berpapun yang saya tawarkan, mereka tidak pernah ada yang menawar. Biola itu pun dibawa pulang ke nagaranya masing-masing,” papar Mustofa ditemui Radar Cianjur (grup pojoksatu.id) di Kampung Baros Kaler RT 4 RW 8 Desa Sukataris, Kecamatan Karangtengah, Cianjur.

Mustofa mengatakan, tidak hanya karya biolanya saja yang mendapatkan pengakuan. Tapi juga kemampuannya mengajari orang yang sebelumnya tidak bisa memainkan biola sama sekali akhirnya bisa menggesekkan dawai biola dan menyenandungkan nada-nada dengan cukup piawai.

“Di Bogor saya juga diminta untuk memberikan les biola. Kalau memang orangnya memiliki felling bagus dalam bermusik, saya jamin dalam empat jam saya sudah bisa membuat orang itu memainkan biola,” ungkap dia.

Yang paling cepat bisa mengusai biola, dikatakan Mustofa, adalah orang yang selama ini sudah bisa menguasai alat musik yang memiliki dawai atau senar. Semisal, gitar, piano atau kecapi.

Namun, Mustofa juga tidak pelit dalam hal ilmu. Ia kerap memberikan les biola gratis ala kadarnya kepada konsumennya sebagai bonus kecil. Tapi, jika konsumennya menghendaki lebih, ia hanya memasang tarif Rp50ribu per jam untuk les penuh. “Kalau les itu tidak bisa lama karena orangnya rawan ngantuk,” tukas dia.(**)