Kisah Maestro Biola; Pindah ke Cianjur Cuma Untung Rp500 Ribu (6)

Mustofa sedang membuat biola. Foto Guruh/pojoksatu.id
Mustofa sedang membuat biola. Foto Guruh/pojoksatu.id
Mustofa sedang membuat biola. Foto Guruh/pojoksatu.id

Setelah terjadi ketidakcocokan dengan kedua rekannya di workshop biola di Bogor, Mustofa memutuskan kembali ke Cianjur. Kini, ia pun harus berbagi asap di dapur yang sekaligus menjadi bengkelnya dalam melahirkan biola-biola berkualitas. Nasib Dewa Biola itu juga makin merana lantaran tidak memiliki modal yang cukup.

LAPORAN: GURUH PERMADI

Dengan sangat terpaksa, Mustofa pun memutuskan kembali ke kampung halamannya di Cianjur. Namun, keadaan tidak cukup membaik. Dengan biola karyanya yang cuma dibandrol Rp2-3 juta itu, ia hanya mendapatkan laba maksimal Rp500 ribu saja. “Itu juga paling besar. Tapi rata-rata untungnya ya di bawah itu,” aku Mustofa.

Ia mengaku sebenarnya tidak cukup sulit untuk menemukan bahan baku kayu yang menjadi dasar pembuatan biolanya itu. Ia kerap menggunakan kayu nayur, pohon kedondong, jatinangor, kisampang, tisuk, waru dan mindi yang berdasarkan pengalamannya cukup cocok untuk dibuat biola.
Namun, untuk beberapa bahan yang lainnya, ia tetap harus membeli dengan harga yang cukup mahal. Apalagi, ia harus membelinya di Bogor.
“Di Cianjur ini tidak ada yang menjual spare part biola. Saya tetap harus beli ke Bogor. Belum biaya transpostasinya,” ujar pria yang kini menginjak usai 67 tahun itu.


Meski mendapatkan laba yang tidak sepadan dari setiap biola yang ia buat, masih saja ada orang yang memesan kepadanya dan membayarnya dengan mencicil. Hal itu tentu sangat memberatkan dirinnya. Pasalnya, dalam sebulan, hanya 2-3 buah biola saja yang laku terjual atau dipesan orang.

“Cianjur ini susah. Biolanya sudah saya murahkan, tapi bayarnya juga mencicil. Di sisi lain, saya juga tidak punya modal sama sekali. Jadi ya baru membuat kalau ada pesanan saja,” papar Bapak enam anak dan kakek dari delapan cucu ini.

Biarpun belum ada cukup penghargaan atas biola karyanya itu, Mustofa mengaku tidak terlalu memikirkan hal itu. Yang terpenting, katanya, ia bisa membagikan ilmu, kemampuan dan skill yang dimilikinya itu kepada orang lain.

Terbukti, sejak pertama kali ia mulai membuatkan pesanan biola, setidaknya tiga orang kini sudah menjadi muridnya dan titisannya dalam membuat biola yang sala satunya adalah anaknya sendiri yang berdomisili di Bogor. “Sebenarnya penghargaan atas karya saya memang tidak seperti ketika masih di Bogor,” imbuhnya.

Satu hal yang paling diharapkannya selain penghargaan atas biola karyanya itu adalah bantuan dari pihak pemerintah untuk memberinya sedikit perhatian dan modal agar ia bisa mengembangkan usahanya itu.

“Yang saya harapkan itu ya perhatian dari pemerintah. Itu saja,” tukas dia sembari tertunduk lesu. (habis)