Kisah Maestro Biola; Belajar Otodidak Sejak Umur 9 Tahun (1)

Mustofa menunjukkan biola buatannya. Foto Guruh/pojoksatu.id
Mustofa menunjukkan biola buatannya. Foto Guruh/pojoksatu.id
Mustofa menunjukkan biola buatannya. Foto Guruh/pojoksatu.id

Membuat alat musik biola membutuhkan skill dan kemampuan khusus agar menghasilkan suara indah dan berkualitas. Pembuatan alat musik asal Eropa ini memiliki kesulitan tingkat tinggi dibandingkan alat musik lain. Seperti apa?

LAPORAN: GURUH PERMADI

Tidak pernah terlintas sedikit pun dalam benak Mus Mustofa, bahwa ia bakal menjadi seorang pengerajin dan pembuat alat musik biola. Bahkan, bisa dikatakan hingga hari ini, ia adalah satu-satunya orang di Cianjur, Jawa Barat yang mampu menghasilkan jenis alat musik dari negeri Eropa itu dengan kualitas yang tidak kalah dengan buatan Eropa.

Namun, siapa sangka jika skill dan kemampuan istimewanya itu ia dapatkan dari belajar sendiri secara otodidak dan tanpa ada bantuan dari siapapun, mulai dari memainkan hingga membuat biola itu sendiri. Bahkan ia juga mengaku, tidak ada garis darah seni sedikitpun sari orangtuanya yang hanya petani di desa.


“Iya, semua hasil dari saya belajar sendiri dan tanpa diajari oleh siapapun,” kata Mustofa, demikian ia disapa.

Semua berawal ketika ia masih berusia 9 tahun. Kala itu, salah seorang teman sekampungnya di Kaduhpandak yang cukup kaya dibelikan sebuah biola oleh orangtuanya. Dari situ, ia pun lantas sesekali meminjamnya untuk sekedar menggesek-gesekan senar biola dengan alat penggeseknya itu. “Ya istilahnya itu cuma sekedar mengeluarkan bunyi saja biarpun tidak beraturan,” katanya.

Lama-kelamaan, Mustofa pun jatuh cinta dengan alat musik gesek itu. Ia pun lantas mulai belajar sendiri dengan biola milik temannya itu hingga sedikit menguasai beberapa nada dasar.

Namun, ia pun harus memendam rasa jatuh cintanya terhadap alat musik yang dikenal memiliki suara mendayu-dayu dan menghayutkan itu, lantaran setelah ia cukup bisa memainkan sedikit nada-nada dasarnya, keburu biola itu dimita kembali oleh temannya.

Mustofa pun kemudian memendam keinginan dan tekad yang cukup besar untuk memiliki biola sendiri. Pasalnya, orangtuanya yang hanya petani tidak akan mampu untuk membelikannya sebuah biola yang harganya cukup tinggi itu.

Akhirnya, dengan bekal pengetahuan dan pemahaman seadanya itu, ia pun lantas membuat biolanya sendiri yang ia buat dari kayu pohon dan bahan seadanya yang mudah ia dapatkan di sekitar rumahnya. Maka ia pun kemudian memiliki biolanya sendiri yang dawainya ia ambil dari senar kawat bekas kopling sepedamotor.

Namun, meski hanya memanfaatkan bahan kayu seadanya, suara yang dihasilkan biola buatan Mustofa itu mampu mengalahkan suara biola milik temannya itu.

“Pakai bahan kayu seadanya. Senarnya juga dari kawat kopling bekas. Sedangkan alat geseknya saya buat dari nilon. Tapi suaranya jauh lebih enak biola buatan saya sendiri,” pungkasnya.(**)