Polda Perintahkan Tembak Jambret di Tempat

Kombes Rikwanto
Kombes Rikwanto
Kombes Rikwanto

POJOKSATU – Jumat (5/12) adalah hari yang membuat M. Ikhsan trauma. Sebab, Andrea Salma, rekan kerjanya di sebuah perusahaan asuransi meregang nyawa saat dijambret dua orang penjahat di Pancoran.

’’Kami kebetulan lembur. Saya memang berniat mengantarkannya karena sudah pukul 23.00,’’ katanya. Nah, sesampainya di Pancoran, tiba-tiba ada dua orang yang berboncengan mengendarai Kawasaki Ninja memepet Ikhsan. Melihat gelagat tidak baik, dia berusaha menghindar. Namun, seorang penjahat langsung menarik tas Salma.

Kontan, perempuan 39 tahun tersebut langsung jatuh dari motor. Nahas, kepalanya menghantam jalan dengan keras. Setelah koma selama dua hari, korban menghembuskan nafas terakhirnya.

Namun, Salma bukan satu-satunya korban. Berdasar data polisi, ada sekitar 300 korban luka ringan, berat, hingga tewas karena penjambretan. ’’Jambret telah merajalela di Jakarta,’’ kata Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Rikwanto. Selain angkanya terus naik dari 5 persen hingga 10 persen per tahun, para penjahat juga semakin berani. ’’Demi tas saja, mereka membacok korbannya,’’ tambahnya.


Karena itu, Rikwanto mengatakan, pihaknya memerintah jajaran untuk menyelenggarakan Operasi Cipta Kondisi mulai Senin (15/12). Polisi berseragam maupun yang berpakaian preman akan lebih banyak melakukan kegiatan penggal jalan. Artinya, mereka turun ke jalan untuk langsung menindak penjambret.

’’Kami mengambil langkah tegas. Jika tidak menyerah, anggota akan menembak mereka untuk dilumpuhkan. Kami tidak ingin mengambil risiko,’’ tegas perwira dengan tiga melati di pundak tersebut. Menurut dia, sejumlah tempat yang rawan penjambretan mulai disisir petugas.

Berdasar hasil analisa-evaluasi (anev), ada empat titik yang paling rawan. Yakni, perempatan Coca-cola, Lapangan Tembak, Tomang, dan Grogol. Menurut dia, ada anggota polsek, polres, dan polda yang ditempatkan di lokasi ramai dan rawan tersebut. Petugas yang dilengkapi senjata lengkap tersebut bisa menindak tegas pelaku. ’’Yang jelas, jika membahayakan, petugas bisa mengambil tindakan tegas,’’ katanya.

Selain itu, Rikwanto berharap, dengan melakukan tindakan tegas, angka jambret bisa menutun secara signifikan. ’’Kami berharap langkah tersebut dapat menjadi shock terapi bagi para penjambret,’’ tegasnya. (yuz/co2/ano)