Di Catwalk, Estelita Liana Keluarkan Mandau

082928_859463_Estelita_Liana_dl_fedPOJOKSATU – Putri Indonesia Pariwisata 2014 Estelita Liana, 21, baru pulang dari ajang Miss Supranational 2014 di Warsawa, Polandia.

Mahasiswi Fakultas Kedokteran UGM itu berhasil membawa pulang predikat Best National Costume dengan tema Warrior Princess of Borneo di ajang tersebut.

Final Miss Supranational digelar pada 5 Desember lalu. Miss India Asha Bhat dinobatkan sebagai pemenangnya. Lily -panggilan akrab Estelita- memang tidak masuk 15 besar. Namun, namanya dipanggil ketika host mengumumkan peraih kostum nasional terbaik.

Setelah kembali ke tanah air pada Senin sore lalu (8/12), kemarin (11/12) Lili didampingi pihak Yayasan Puteri Indonesia mengadakan konferensi pers.


Pada kesempatan itu, runner-up Putri Indonesia 2014 itu menceritakan pengalamannya saat berkompetisi di Polandia. Dia mengatakan, saat fashion show kostum nasional, dirinya tampil terakhir karena kostumnya sangat besar. Bahkan, dia sedikit kesulitan saat berjalan di catwalk, takut mengenai peserta lain atau penonton di sekitar panggung.

“Begitu saya keluar, juri dan semua tepuk tangan. Waktu saya mengeluarkan mandau dan sedikit menari, mereka langsung terkejut dan bertepuk tangan. Tepuk tangan nggak berhenti,” tutur Lily di Graha Mustika Ratu, Gatot Subroto, Jakarta.

Menurut Lily, Indonesia termasuk salah satu negara (di antara 72 negara peserta kontes) dengan kostum etnik dan kental dengan budaya.

Selain kostum nasional, Lily mendapat pujian saat malam apresiasi atau malam bakat. Dia menampilkan tari topeng. Gadis manis tersebut membawakan tarian dengan gerakan lucu. Semua penonton, lanjut dia, tertawa karena tarian Lily. Meski tidak mengenal bahasanya, kata mereka tariannya lucu.

“Bangga dan senang rasanya bisa membuat orang-orang terhibur. Saya berlatih tiga bulan ke Bandung lho untuk tarian itu,” ungkapnya.

Gara-gara tarian itu, teman-teman sesama peserta menjadi mengenali dia. “Mereka sampai bilang, ayo Lily kamu menari lagi malam ini. Saya sedang sedih,” ceritanya.

Meskipun senang memiliki banyak teman baru, beberapa kali dia merasa sangat rindu orang tua. Apalagi, ponselnya terjatuh di sana dan tidak bisa digunakan beberapa hari. Dia hampir menangis.

Ketika ditanya bagian tersulit saat ikut kompetisi, Lily menjawab bukan soal pesaing. “Cari air mineral di sana susah banget. Dari pertama datang, dikasih sparkling water,” kenangnya.

Bersama beberapa kontestan lain yang tidak terbiasa minum air soda, biasanya mereka membawa botol minum kosong saat sarapan pagi. “Terus kita isi botol minum itu dengan air putih biasa. Cuma saat sarapan ada air putih. Selain itu, air soda terus,” ucapnya. (yas/c4/jan)